Cerita Sang Pelaut

Malam ketiga dari Ekspedisi, Akhirnya aku mau untuk melanjutkan surat ekspedisi. Tapi kali ini bukan untuk bercerita keelokan, keasikan, keindahan perjalanan kami, melainkan sebuah kisah inspiratif dari perjalanan ekspedisiku. Mendengar cerita kak Bima, Chief kapal yang kunaiki, membuatku termenung lagi tentang kehidupan dunia ini.

Malam itu teman tim ekspedisi, kak Bima dan diriku berkumpul di level 2 kapal Sabuk Nusantara 57 yang mana merupakan lantai tempat tidur terbawah. Kata Captain, sebuah hal yang jarang kalau seorang chief mau untuk turun dan berbaur ke level 2, tapi sepertinya dia mau turun karena berniat untuk ketemu salah satu ekspeditor perempuan kami haha.

Kak Bima merupakan seorang pelaut (26 tahun). Dia sudah berpengalaman di berbagai tempat seperti Singapura, Bangladesh, Tiongkok, dan Rusia. Dia mengaku berasal dari keluarga yang sangat susah, keluarga kecil di Tanjung Priuk yang mana lingkungannya sangat keras dan tidak mendukung dia untuk bisa menjadi orang yang hebat. Sejak dini dia sudah terlatih untuk bersabar karena apa yang dia inginkan akan susah didapatkan dengan kondisi bapak yang sudah pensiun dan ibu yang tidak bekerja. Keinginan dia untuk berkuliah di Fakultas Hukum, Universitas Indonesia juga tidak bisa tercapai karena keterbatasan uang saat itu. Dengan tekat untuk tetap bisa mencari uang sendiri, akhirnya dia mengadu takdir di sekolah pelayaran. Siapa sangka akhirnya dia diterima di sana melalui tes tulis.

Sekolah pelayaran menjadi tempat yang sangat berpengaruh di kehidupan kak Bima. Dia mengatakan bahwa hanya sekolah pelayaran lah yang kalian bisa belajar bagus dan murah tapi selalu mendapatkan tendangan dan pukulan sebagai ganjarannya. Semua kontak fisik dan pengalaman di asrama membuat dia kuat secara mental dan batin. Dia juga mengaku terkesan saat bisa bersekolah dengan manusia dari berbagai pelosok Nusantara.

Pada tingkat tiga, dia diwajibkan untuk magang. Saat itulah kak Bima pertama kali kerja di lapangan dan menerima gaji. Saat itu dia ditempatkan di kapal kargo yang ratusan meter panjangnya asal Singapura. Magangnya berjalan dengan baik, dalam waktu seminggu, dia sudah dinaikkan pangkat dari third officer menjadi second officer. Itu karena sifat keluwesan dia dalam bergaul dan bekerja. Tetapi di akhir bulan pertama magang, sebuah masalah muncul kepada orang yang jarang memegang uang banyak. Kak Bima yang biasanya susah untuk membeli sesuatu bahkan untuk menyenangkan dirinya sendiri, sekarang dia menerima slip gaji dengan nominal yang fantastis. Slip gaji pertamanya bertuliskan 1500… tapi bukan dengan mata uang Rupiah, melainkan USD. Uang yang besar, dalam kondisi biasa melaut, dan nafsu diri yang tidak dapat ditahan karena ingin membalas dendam kondisi dahulu, akhirnya membuat dia tergoda untuk masuk ke dunia judi dan minuman keras. Dia bercerita bahwa hal itu menjadi kebiasaan dan diakibatkan karena  teman-teman kerjanyanya yang mengajak.

“Nyimpen uang sebanyak itu, ditaro di bawah kasur, disayang-sayang. Sampe akhirnya diajak capt untuk pergi ke Shanghai. Akhirnya langsung pergi ke darat sambil bawa 670 USD. Dalam hitungan jam langsung ludes dipake dah tuh untuk judi dan minum.” Kata kak Bima.

“Tapi walaupun gua begitu, gua tetap gak mau untuk main cewe, gak suka gua. Mending minum Absolute Vodka dah lebih nenangin.” Tambah katanya gitu. Tapi dia menyesal atas apa yang terjadi, setahun dia magang, uangnya habis semua untuk hal-hal gak berguna seperti itu. Karena sewaktu dia pulang ke rumah, ibunya menanyakan di mana hasil berlayarnya dan kak Bima hanya bisa menunjukkan tas original brand Nike dan Iphone 5 yang memang keluaran terbaru waktu itu. Raut wajah kecewa seorang ibunya lah yang dia akui menjadi penyadarnya. Kami yang di atas kasur yang mendengarkan hanya bisa percaya dan terkesima dengan ceritanya.

Setelah kejadian itu, dia sadar dan berani untuk mencoba mengadu nasib lagi. Kali ini dia lolos pendaftaran kerja ke perusahaan pelayaran di Rusia. Di Yellow River, Russia, dia memegang kapal kargo lagi bersama dengan banyak teman yang kebetulan ada yang dari Indonesia. Di sana, gaji yang dia terima juga semakin fantastis. Dia bilang bahwa uangnya membuat dia sanggup untuk membeli tanah di Makassar dan kendaraan pribadi di Jakarta. Kali ini, uang yang dikeluarkan lebih bermanfaat dari tahun pertama ia menerima gaji. Dia berencana untuk memberangkatkan orang tuanya Umroh tahun ini dan terus memanfaatkan strategi investasi tanah. Ya walaupun kebiasaan minum-minumnya masih suka kambuh, tapi usahanya untuk berniat baik patut diapresiasi.

Terlepas dari kisah kesuksesan dirinya, sebenarnya ada sosok pahlawan di baliknya. Mereka adalah orang tua kak Bima. Pasangan seorang perempuan lulusan SMP dan pensiunan PNS ini dapat mendidik kelima anaknya untuk menjadi orang-orang sukses yang mandiri. Kakak tertuanya sudah menjadi arsitek, yang kedua kerja di perusahaan kontraktor sipil, yang ketiga kerja di Rotterdam dengan ilmu sastra belandanya, yang keempat sedang di TNI Angkatan Udara, dan terakhir kelima kak Bima sendiri.

Kak Bima berpesan kepada kami untuk selalu bersyukur dengan kondisi kita yang masih diberi kesempatan untuk bisa mengikuti perkuliahan apalagi di kampus ternama seperti ITB. Menjadi mahasiswa itu tidak harus selalu terpatok dengan teori, karena kondisi di lapangan sangat dinamis. Kita harus dituntut untuk menjadi pekerja yang gigih, cekatan, luwes, dan kreatif. Oleh karenanya boleh lah kita mahasiswa ini latihan-latihan hal-hal seperti itu sejak sekarang.

~~

Kehangatan cerita dia di malam itu diiringi pula dengan kebaikan seluruh crew kapal yang selalu membantu membuatkan kami sarapan dan makan siang. Sebenarnya banyak kisah lain yang diceritakan oleh awak buah kapal lain, tapi ini yang paling menarik menurutku. Betul atau tidaknya cerita yang mereka lontarkan bukan menjadi masalah bagi diriku. Karena jikalau semua itu hanya sebuah karangan , mereka akan tetap inspiratif.

Maka
terima Kasih Banyak kak Bima, Captain, dan seluruh crew Kapal Sanus 57

Pulau Marabatuan, 7 Agustus 2017

Fayed, Pemimpi Tapi Tidur

Skhole dan Fayed

Dua hari sebelum keberangkatan Ekspedisi menuju Kalimantan, diriku banyak mengingat terkait jalan hidup yang telah ditempuh selama 2 tahun di kampus Ganesha ini. Salah duanya adalah mengapa diriku mau menjadi anggota Skhole sejak awal dan mengapa aku masih tetap bertahan di sini.

Sejak SMA aku tidak pernah membayangkan diriku akan terjun ke dunia pengabdian masyarakat ataupun hal-hal yang terkait dengannya. Saat itu yang ku tahu tentang ITB adalah kampus tempat orang ambis. Walau nyatanya, ruangan yang ku lihat lewat lubang kunci pintu tersebut masih memiliki banyak hal di dalamnya.

Aku ingat di saat kegiatan Open House Unit ITB 2015, organisasi yang kudaftar hanyalah Skhole dan Bebek. Keduanya aku daftar sebagai rasa syukur karena telah diterima di ITB. Aku ingin menyebarkan manfaat dari keberuntunganku ke anak-anak terutama anak Yatim Piatu. Ya membantu anak Yatim Piatu merupakan nazarku jikalau aku diterima di ITB.

Sebuah Pertemenan

Proses Penerimaan Anggota Baru Skhole yang sebagai gerbang awal untuk menjadi anggota resmi Skhole telah mempertemukanku dengan banyak teman baru; Dira, Ical, Iffah, Virdi, Marsha, Ulfah, Irfan, Tamara, Dewi, Saghita, Sepcan, dan Dwi. Diriku juga semakin akrab dengan Bimo, laki yang aku temui di toko buku, dan Faris, sahabatku sejak SMP, saat tau mereka juga mendaftar di Skhole. Faris, Bimo dan Aku akhirnya mendaftarkan diri sebagai pengajar di Rumah Belajar Cicaheum. Di Cicaheum pula diriku semakin banyak mengenal teman baru; Prana, Fahmi, Badruddin, Dita, Elis, Tamara, Gita, Thea, Stella, Rizki, kPras dan Gendis. Kami biasa berangkat dan pulang bersama naik angkot Caheum Ledeng. Momen kebersamaan itulah yang mempernyatukan kita, dan di saat itu pula pertama kali aku merasakan kenyamanan dan kebersamaan dengan orang-orang yang peduli dengan masyarakat.

Selain mereka , teman seangkatan Skhole, sebenarnya juga ada banyak sosok kakak tetua Skhole yang aku temui. Mulai dari yang perempuan dengan sifat keibuannya hingga sifat keliarannya ataupun laki-laki mulai dari yang ngaco hingga yang berwibawa. Mereka semua kupandang sama , yaitu sebagai kakak-kakak hebat yang sudah merelakan waktunya demi masyarakat dan Skhole. Mereka adalah kak Arif, kak Amel, kak Fitri, kak Tantra, kak Imin, kak Riska, kak Kinan, kak Neli, kak Putri, kak Pebi, kak Dina, kak Yoga, kak Agung, kak Lulu, kak Ita, kak Alya, kak Fazat, kak Onny, kak Pono, kak Ala, kak Yana, kak Burhan, dan kak Taro. Wah banyak sekali ya.. haha. Ya memang sebanyak itu kok kakak-kakak kerennya, apalagi alumni-alumninya 😀

Pembelajaran Lebih Awal

Keaktifan mengajarku memberikan efek samping, yaitu diamanahkannya diriku menjadi ketua Musyawarah Skhole yang mana merupakan pemilunya pemimpin Skhole. Diriku yang dulu bodoh itu akhirnya belajar terkait keorganisasian untuk pertama kalinya. Sebenarnya aku menyesal karena waktu di SMA tidak membuatku pintar akan hal ini.

Sejak memimpin Musyawarah Skhole, aku mulai percaya diri dalam pengembangan diri. Aku semakin menagih hal-hal yang aku belum tahu terutama terkait kepemimpinan dan keorgansisasian. Untungnya semua itu bisa didapatkan di Skhole dan nyatanya semuanya semakin menarik.

Semakin menarik, contohnya di saat kami harus mengurus proses penerimaan anggota baru yang mana maksudnya adalah kaderisasi. Ternyata kaderisasi gak buruk-buruk amat ya.. haha aku jadi merasakan esensi hal yang dulu aku anggap remeh. Diriku juga jadi semakin terbiasa untuk berkumpul efektif, bekerja terstruktur, dan begadang (serius). Lalu..

Skhole Pahlawan

Masa transisi tingkat satu ke dua merupakan sebuah tantangan tersendiri, banyak teman Skholeku yang akhirnya terlalu sibuk dengan jurusannya dan ada pula orang-orang yang akhirnya kembali aktif ke Skhole. Aku mengerti tiap-tiap orang pasti memiliki alasannya tersendiri.

Tapi transisi ini tidak terlalu berpengaruh terhadapku. Aku bersyukur bisa sangat dekat dengan teman-teman Skhole lainnya sehingga hampir tidak pernah ada pemikiran untuk menggantikan mereka dengan yang lain. Lagi pula saat itu juga ada anggota baru Skhole yang mana angkatan 2016. Mereka semua baik dan sangat semangat. Aku bisa melihat bagaimana mereka mau berkembang di Skhole ataupun tempat lain dan menyebarkannya ke anggota Skhole lainnya. Walau lebih muda tetapi sudah sangat menginspirasi. Ya akhirnya aku jadi semakin betah untuk dekat dengan mereka. Aku harap kalian tidak pergi ya di masa transisi ini.

Skhole di tingkat dua, diriku dan teman seangkatan lainnya , harus mempersiapkan diri untuk meneruskan kepengurusan. Ya ini memang sebuah anomali di organisasi ITB.  Tapi kepengurusan di tingkat dua inilah yang ternyata membuatku semakin berkembang di Skhole. Saat itu Faris, Bimo, Dira, dan Aku maju untuk menjadi calon kepala sekolahnya. Sebuah momen bersama kami untuk mengikatkan diri dan mencari tahu lebih dalam tentang Skhole. Siapa sangka, Skhole yang selama ini aku pikir hanya tempat mengajar, ternyata memiliki peran yang lebih dalam. Hal ini karena Faris telah menemukan mimpi Skhole versi kak Naya, Kepala Sekolah Skhole pertama. Kami berempat pun jadi gemar mendiskusikan hal tersebut dan akhirnya kami sepakat untuk membawa hal itu di kepengurusan siapapun yang akan terpilih.

Singkat cerita, terpilihlah Faris sebagai kepala sekolah baru. Faris menamakan badan kepengurusan Skhole tahun ini sebagai Skhole Pahlawan. Hal ini diturunkan dari Visi nya Faris yang sebenarnya juga merupakan Visi nya kak Naya, Skhole-ITB Mengajar. Faris ingin kita memantik pergerakan pendidikan di ITB dengan cara menjadikan anggota Skhole sebagai pahlawan pergerakan pendidikan di kampus dan juga menularkan kepahlawanan ini ke orang-orang lain terutama massa organisasi lain sehingga orang yang tertular ini bisa menularkan lagi ke organisasinya. Wah asik ya doktrin-doktrinan gitu haha.

Faris juga mengamanahkanku untuk memegang jabatan Sekretaris Jenderal, lagi-lagi ada hal baru yang kudapatkan di Skhole. Amanah ini sangat berat bagiku tapi itu telah yang membuatku semakin cinta dan bertahan di Skhole. Jika boleh flashback lagi, waktu aku dilantik menjadi anggota Skhole, diriku diberikan sebuah kalung yang sangat sederhana. Kalung yang terbuat dari benang kasur dan sehelai kertas ini bertuliskan “Amanah tidak akan salah memilih pundak”. Kalimat singkat ini selalu menyakinkanku bahwa Skhole benar-benar butuh aku, aku benar-benar butuh Skhole, dan alam semesta telah bersama-sama mewujudkan itu.

Teman, Jalan hidup ini memang sangat menarik ya…

Aku mau berpesan untuk Skhole 2016, jangan terlalu cepat bosan, kalian harus bisa lebih merasakan kehangatan di sini. Kakak Skhole 2014, jangan terlalu cepat meninggalkan kami, karena kami sebenarnya masih butuh bimbingan kalian. Skhole 2015, terus semangat yaa untuk membawa Skhole sesuai dengan mimpi diktator kita, Fur fur hafirim.

dan terakhir untuk semuanya, aku hanya ingin kalian tahu…

Sebuah Pamitan Singkat

Cerita ini ditulis di tengah kesibukan dan ketakutan diriku untuk pergi ekspedisi ke Kalimantan pada 4 Agustus nanti. Aku tidak akan banyak melakukan pamitan formal kepada kalian. Aku harap tulisan ini bisa menjadi the untold story of mine yang bisa kalian ingat tentangku di Skhole. Karena memang aku sungguh-sungguh senang bisa belajar, bermain, berdiskusi, dan “berkembang” bersama kalian.

Terima kasih Faris, Dira, Thariq, ka Lulu, ka Imin, Skhole 2015, Skhole 2016, dan kakak-kakak lainnya.

 

Bandung, 2 Agustus 2017
pamit…

 

Fayed, pemimpi tapi tidur.

Udara Bandung Malam

Pardon my Bahasa Indonesia

Malam ini, Sekitarku bukan lagi mereka seperti biasanya. Mereka sedang jauh, jauh untuk melakukan kewajiban masing-masing. Ya aku sendiri. Mungkin kesendirian ini akan berlangsung lama, tetapi kuharap tidak.

Seminggu lebih setelah dia tidak bisa kurasakan lagi kehadirannya. Perasaanku lebih tenang, daripada beberapa hari pertama, sepertinya. Malam ini, aku pergi mencari ketenangan lebih, yang kuyakini bisa didapatkan di rumah-Nya. Sepanjang perjalanan aku hirup Udara Bandung Malam sembari mencari bulan yang biasanya tampak menemani.

Udara nan sejuk telah membuat otak ku tenang. Saat itulah waktu yang tepat untuk diriku mencari teman, teman yang sesungguhnya. Aku bukan orang gila, tetapi diriku adalah temanku yang sesungguhnya. Aku bertanya pada dia, aku pula yang menjawab. Aku menasehati dia, dan aku pula yang angkuh untuk menerima nasehat itu. Saat itu aku akan banyak berkaca dan bercermin.

Pada akhirnya sebuah dialog ceritapun tercipta, tetapi itu hanya akan menjadi rahasia diriku, temanku, dan Penciptaku.

Terima kasih udara malam Bandung. Karenamu aku harap diriku bisa lebih bijak.

This Year’s Ramadhan

Alhamdulillah, I was granted full 29 days of Ramadhan this year and did all the fasting and almost the Sunnah. I could say I am very pleased with this year’s Ramadhan.

There are a lot of things happened and there are also a lot of new things that I experienced for the first time. Ramadhan consistently proves to be the busiest time of the year, and for good reason.

The First Week of Ramadhan

My first week was spent in two different cities. I remembered the first two days, I did the fasting with my family in Jakarta. It had been a tradition to start the fasting with the family. InsyaAllah I will do it every year without exception. I may be really busy but I shouldn’t forget my family

After spent time with the family, I must go to Bandung. I took a short semester program for the Mata Kuliah Manajemen Konstruksi Bangunan Laut or Management Construction of Marine Structure so I could have a little bit free time in the sixth semester. Now I did the fast only with my friends – people on the campus, in the mosque, and around my homestay.

 

 

Thanks For The New Moon

What can be more grateful than having a full moon, especially when a night feels like a month or maybe thousand months. Yes It is when Ramadhan month.

Today is a day when finally i can write. I am feeling like there are so many stories that i must tell before the moon fades. I will start at before the moon changed.

Before The Moon Changed (to Ramadhan)

Starting from the time before the moon changed, I traveled back to home in Jakarta. At least to see my family faces and then need to get back to Bandung again after couple days. I was having busy days in Bandung and it was like a must to stay here. But the girl who took care of me, mother, really wanted to meet me really bad.

“I didnt really have so many need-feelings on them and probably the otherwise”
Too bad, I did have that thought a moment.

Before went to Jakarta, I met and chatted with people that should be busy with me in the future. We talked things and made sure that we didnt left any Bandung’s responsibility behind. I told them that I will dissapear for couple days and they were okay with that, but somehow I wasnt.

I used a car-travel, got front seat, and left Bandung at 6 pm. It was a normal day, the weather, the traffic, the other people in the car, everything was fine. I spent the voyage with thinking what I can do in Jakarta, because probably it will be so boring, with seeing the road.

“The new moon will ever be the same as the old moon”
Too bad, I did have that thought a moment.

The driver was an old man and I could say that he got big balls in driving. I, sitted beside the driver, really felt the adrenaline. The trip was fine until we reached Karawang. The old-big balls-driver suddenly turned into a sloth. He was often sleepy and it became a problem. Sometimes he slept away when there was a traffic. We were always honked since then.

I decided to close my eyes because seeing his driving made me uncomfortable. Someone behind me always yelled to the driver to stop a while and offered him a help by replacing him as a driver. But the driver always rejected it.

“Welcoming The New Moon (Ramadhan) happily will prevent you for feeling the hellfire”
Too bad, I didnt really get serious about it.

With my eyes closed, I could only see by feeling. I felt that the car was getting faster and faster. And by feeling too, I felt that the car was not slowing down even after a long time. This was weird, I said. I opened my eyes and IN THE NAME OF ALLAH, the driver was overslept and there was a car 2 meters in front of us. “SIR, WATCH OUT!”, the driver woke up and breaked the car in the sudden. No, we didnt crash. But that was three seconds moment between life and death. I was shocked and so did all other passengers.

“Did I just saved?

“Mother, did you really want to meet me so bad so we can talk before one of us get called by the Creator?”

“Father, do you already proud of me if should die now?”

“Brothers and Sisters, will you forgive my mistakes if I would disappear forever?”

“Was I given a chance to feel the Ramadhan this year? If it is so, how I should respond?”

I spent the rest of the trip thinking that. I didnt think any Bandung things, instead I only thought my family.

Seeing the death in front of your eyes is the best way to make you think how already good your life is. To be honest, I was really scared. I was scared because I felt that I didnt do many good deeds yet.

Arrived at home and hugged everyone in the house was relieving my feeling. I also thanked to Allah SWT for giving me a chance. Since that, I tried my best to do many good deeds alone or with my family. Also I didnt forget to prepare myself for welcoming Ramadhan month with reading Quran.

Two nights of New Moon (Ramadhan) was spent in Jakarta. I was really happy that I could welcome it with many good things. Of course it was because of Allah SWT who showed me the right path through that close-death. I felt the importance of my family and somehow it made me happy if i could spend time with them.

The second day, I decided to get back to Bandung again for having a class. I was sad, but it was my obligation as a student. Although experiencing Ramadhan at Bandung is no less interesting.

InsyaAllah and hopefully the rest of the moon is also can that good or maybe much better.

aamiin