Martabat Seorang Nelayan

Si sebuah malam, bunyi jangkrik dan deratan pintu rapuh memberikan kesan tengah malam, padahal saat itu masih jam delapan. Selalu, sehabis Isya warga pulau Marabatuan sudah menghentikan pekerjaannya dan melakukan kegiatan bersama keluarga di rumah masing-masing makanya kalau kita menyusuri ke jalanan utama desapun akan tetap terasa sepinya.

Kami, berdua puluh enam, berkumpul di masjid untuk mendiskusikan dan melaporkan data dan informasi yang kami dapat dari warga Marabatuan. Data dan informasi ini selain digunakan untuk data primer ekspedisi selanjutnya, juga untuk menjadi bahan penentu apa yang akan kita lakukan esok hari. Dipimpin oleh ka Dhanny selaku koordinator lapangan, kitapun mulai mengeluarkan catatan masing-masing. Buku orangeku sudah terlihat pucat. Satu persatu kami mengutarkan data dan kisah yang kami dapatkan dari masyarakat lokal. Sambil membolak balikan halaman bukuku, kudengarkan kisah teman yang lain. Terkadang apa yang dilontarkan mereka selalu menjadi sebuah sel dinamit untuk terus menjalarkan api ke tiap sudut otak. Maksudku adalah Pulau Marabatuan ternyata memiliki masalah yang cukup besar dan sepertinya membutuhkan bantuan pihak ketiga sebelum terlanjur hancur terlahap waktu.

Dalam beberapa ucapan yang kuingat, rangkumannya seperti

“SD di sini kan kita udah tau ada tiga, tapi sebenarnya ada satu lagi. Satu ini sebuah madrasah di ujung barat Desa Tengah, Madrasah al Jihad. MI ini udah gak ada yang lanjutin lagi setelah pemiliknya meninggal. MI nya juga swasta jadi pemerintah gakbisa bantu apa-apa. Padahal kata pak Hamdi pengajar di sana bagus-bagus, alias dari orang kota.”

“Pemuda SMP di sini sangat terpengaruhi oleh masa transisi dan pergaulan kota, akhirnya suka banyak yang kebablasan jadi mabok dan berhubungan bebas. Tapi alesan dibalik itu semuanya karena mereka memang ingin terlihat keren di mata teman yang lain. Membanggakan kalau dia itu cowonya inilah, atau udah pernah nyobain ngefly lah, dll. Ya bisa dibilang, masa SMP di sini adalah masa pamer-pamernya para pemuda.”

“SMA di pulau ini cuman ada satu. Persenan orang yang lanjut dari SMP ke SMA pun sebenarnya udah besar. Dan jikalau ada yang tidak lanjut setelah SMP itu karena mereka lebih memilih untuk jadi nelayan alias pergi melaut bareng orang tuanya.”

“Alumni SMA di sini dapat dihitung jari yang lanjut ke perkuliahan. Untuk orang-orang yang jurusannya pendidikan,kebidanan, dan kesehatan  biasanya akan balik lagi ke pulau. Tetapi untuk yang selain itu mereka udah pada betah untuk kerja di kota.”

Dan beberapa data kuantitatif yang aku tak ingat secara pribadi.

Dari semua yang kami laporkan, kami fokus ke data pendidikan formal ; Bagaimana kondisi pendidikan di Marabatuan dari TK hingga SMA dan perkuliahan. Kami juga sebenarnya bertanya tentang pendapat orang-orang di sini terkait pendidikan. Rerata jawabannya sudah seperti orang rerata pikirkan, yaitu pendidikan formal adalah sebuah kewajiban yang sangat penting. Namun, tiba-tiba salah satu dari teman dari kami mengintrupsi untuk mencoba menceritakan pendapat seorang yang unik terkait hal pendidikan. Dia adalah ka Rafid, ya dia adalah orang yang sangat bermasyarakat dan dia juga yang kadang mengetahui the hidden insight of this island.

Dia mengutarakan bahwa ada seorang bapak tetua di pulau ini yang dia ajak obrol terkait pendidikan. Mungkin, bapak ini adalah orang yang paling beridealisme terkait pendidikan. Bapak itu seorang nelayan dan memiliki anak yang masih muda-muda. Kak Rafid menceritakan bahwa sebenarnya si Bapak ini tidak akan menyekolahkan anaknya melalui pendidikan formal melainkan dengan diajari langsung oleh bapaknya sendiri. Si Bapak ingin anaknya menjadi nelayan yang tangguh maka kenapa gak langsung aja diajari tips dan trik untuk melaut. Si Bapak juga sebenarnya sadar akan pentingnya teknologi untuk bisa menjadi nelayan yang sukses. Sampai akhirnya ka Rafid melontarkan sebuah kalimat si Bapak yang cukup menggetarkan hati kami.

“Apakah martabat seorang Nelayan serendah itu? Sampai-sampai orang di sini diarahkan perlu sekolah tinggi untuk bisa bekerja di kantoran?”

Pertama kali mendengar, diriku sontak langsung berpikir beberapa hal. Pemikiran pertama, sepertinya aku benar-benar suka menanggap pekerjaan seperti nelayan, petani, tukang kebun, ataupun peternak sebagai pekerjaan yang rendahan dan sehingga generasi penerusnya harus belajar dengan baik biar bisa jadi sarjana dan memiliki pekerjaan yang salary nya lebih besar. Pemikiran kedua,  diriku jadi bingung kenapa si Bapak mengatakan seperti itu, apakah kegiatan yang selama ini kami lakukan terkesan memaksa orang untuk berkuliah? Padahal sejak awal kami sudah sepakat untuk membebaskan orang untuk mengambil jalannya masing-masing dalam menggapai mimpinya. Kita hanya memberikan inspirasi dan informasi yang terserah orang-orang di sana mau mengambil sepenuhnya, sebagian, ataupun tidak sama sekali.

Ternyata tidak hanya diriku yang berpikir mendadak seperti itu, Sonny yang duduk di sebelahku pun juga begitu.

Singkat cerita setelah perbedaan pendapat dari orang-orang di tim kami, kami sepakat untuk menyelesaikan pembicaraan ini dan kembali kepada pemikiran awal kami bahwa pendidikan yang kami bawa adalah berupa pengajaran karakter dan rasa sehingga pemuda-pemuda di sini bisa mencari kemampuan dan potensinya masing-masing dalam perwujudan mimpi. Sehingga tidak akan terjadi pengotakan si ini harus jadi itu, si itu harus jadi ini.

Walaupun sebenarnya tidak akan mudah untuk mendidik manusia dalam waktu singkat.

Tapi semoga pendapat si Bapak bisa menjadi bahan renungan kita semua untuk dapat menghargai semua profesi orang dan tidak terlalu mengeneralisirkan bahwa pekerjaan yang baik adalah yang bergaji tinggi. Karena nyatanya, bernelayan saja sudah cukup untuk menghidupkan dan membahagiaan mereka.

~~

Detikan jam masjid mulai horor. Waktu, tidak terasa, telah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Akhirnya kumpul malam yang cukup menganggu sunyinya Marabatuan ini ditutup. Diriku cukup sedih dan senang. Selama ini, aku merasa sedikit memberikan ilmu ke yang lain dan kurang bermanfaat ke tim ataupun ke orang Marabatuan. Tetapi sangat senang karena banyak pelajaran yang didapat dari ekspedisi ini.

Lalu, tiap kunjungan ke rumah lokal tidak membuatku merasa bangga dan pintar melainkan merasa malu dan bodoh. Seorang calon sarjana Teknik Kelautan ini tidak pantas menyebutkan dirinya sebagai mahasiswa karena selalu saja mereka yang mengajariku banyak hal tentang laut dan kapal, bukan sebaliknya. Kerja keras mereka melebihi usahaku untuk mendapatkan ilmu di bangku kuliah. Mereka merelakan waktu, pikiran, dan tenaga untuk terus melaut tiap pagi demi keluarganya hidup. Sedangkan diriku, yang seharusnya menjadi problem solver akan permasalahan mereka masih bermalas-malasan untuk serius meyerap ilmu selama dua sampai tiga jam di ruangan yang nyaman. Bagaimana diriku bisa bermanfaat bagi mereka? tanya diriku

Sepertinya, mereka lebih layak hidup dan menerima kesempatan berkuliah daripada diriku.

Surat ini kubuat di Kapal Perintis Sabuk Nusantara 57 saat berlabuh di Pulau Masalembo. Ini cerita dan pemikiranku di saat orang lain juga sibuk dengan buku catatan diary mereka masing-masing. Sebenarnya ingin sekali bisa menulis dengan baik dan menginspirasi orang lain melalui surat yang kubuat tiap hari layaknya ekspedisi yang tiap harinya selalu menginspirasi diriku. Tapi kuharap akan selalu ada hal kecil yang menarik di tiap suratku.

Pulau Masalembo, 14 Agustus 2017

Fayed, Pemimpi Tapi Tidur

Rumah Panggung Marabatuan

Waktu kecil aku bercita-cita untuk menjadi Arsitek. Sebab, sudah menjadi kegemaran tersendiri untuk mengagumi keindahan tiap sudut daerah. Menurutku, Arsitektur sebenarnya mempelajari bagaimana seorang manusia bisa membuat sebuah hal fisik yang berestetik dan bernilai seni. Di hidup kita pun, semua hal pasti memiliki nilai seninya tersendiri, misalkan bentuk snowflakes yang unik mahakarya Sang Pencipta, atau Burj Al-Arab yang menjadi salah satu bangunan paling iconic karena bentuknya yang menakjubkan, ataupun sebuah kubah yang menjelaskan sebuah bangunan itu mengadaptasi kebudayaan timur tengah. Nah diriku menemukan sesuatu yang menarik di perjalanan ekspedisi ini, yaitu arsitektur rumah di suatu daerah yang aku kunjungi di Ekspedisi Nusantara Jaya ITB 2017, yaitu Pulau Marabatuan.

Pulau Marabatuan berkontur bukit-pantai dan menjadi sebuah daerah tempat tinggal sejak tahun 1960-an. Marabatuan memiliki arti “pulau batu” yang memang terlihat dari apa yang ada di pulaunya, ya di sini banyak batu-batu besar nan indah. Batu-batu tersebut tersebar sepanjang pesisir pulau yang mengakibatkan minimnya pantai di pulau ini dan juga batu-batunya tersebar di seluruh daerah perbukitan yang mengakibatkan kontur pulaunya sangat tidak rata.

Pulau Marabatuan dihubungkan dengan satu jalan utama yang terbentang dari ujung barat Desa Tengah hingga ujung timur di Desa Tanjung Nyiur.
Jalan utama ini juga membentuk beberapa cabang ke selatan alias ke atas bukit. Di sepanjang jalan-jalan inilah berdiri semua pemukiman Marabatuan yang akhirnya terlihat berjejer sejajar garis pantai.

~~

Rumah-rumah di Marabatuan, menurutku, sangat keren dan unik. Kenapa? Karena hampir semua bangunan di sini memiliki kesamaan. Di sini aku ambil foto-foto rumah di sepanjang jalan utama, banyak rumah yang sama-sama bewarna cerah atau sama-sama kusam kecoklatan. Lalu hampir semua bangunan mulai dari rumah penduduk, kandang hewan, sekolah, langgar (musholla), pos kamling, puskesmas, hingga kantor kepala desa memiliki pondasi tiang alias berbentuk rumah panggung. Hal tersebut demikian karena kontur tanah di sini tidak rata, sehingga untuk memiliki lantai rumah yang rata lebih baik dibuatkan panggung yang mana kakinya akan menyesuaikan kontur tanah. Selain itu, dekorasi di tiap rumah juga memiliki kesamaan, rata-rata tiap rumah menggunakan gorden bewarna cerah dengan manik-manik di bawahnya. Gorden sangat tren di sini karena dapat mempercantik rumah tetapi tetap dipasang di dalam rumah dan kebetulan sinar matahari di Marabatuan terik sekali, jadi bisa multifungsional. Dekorasi lainnya yang cukup populer adalah jaring-jaring. Jaring ini digunakan sebagai pagar rumah ataupun pagar bawah panggung, tetapi pagar ini bukan teruntukan kepada manusia melainkan kepada anjing liar. Biasanya pada malam hari, anjing-anjing liar di atas bukit mulai turun dan menggigiti sandal-sandal ataupun makan hewan peliharaan. Terakhir, dekorasi yang menurutku paling keren adalah tiang bendera. Hampir tiap rumah di Marabatuan memiliki tiang bendera semi-permanen yang terbuat dari besi dan terpondasikan ke tanah. Walaupun sekarang sedang momen 17-Agustusan tetapi sebenarnya memang masyarakat di sini sangat gemar untuk mengibarkan Bendera Merah Putih dan itu menjadi kebanggaan sendiri.

Sebelum kapal perintis rutin datang ke pulau, semua bangunan terbuat dari bahan utama kayu, tetapi semenjak setelah tahun 2006, pembangunan rumah mulai menggunakan batu bata dan semen. Makanya gampang dibedakan dengan jelas mana bangunan yang baru mana bangunan yang lama.

Kalau kita melihat pulau ini dari laut maka terlihat jelas ada bangunan-bangunan yang paling menonjol di pulau, yaitu Bandwith Tower System yang orang lokal menyebutnya “Menara Telkomsel”, lalu ada Kantor Camat Pulau Sembilan karena memiliki cat kuning terang dan didirikan di daratan atas, serta terakhir ada Masjid Irsyadun Ilmi karena memiliki warna cat putih,hijau, emas serta dibangun di daratan atas pula.

Pokoknya Pulau Marabatuan ni benar-benar menarik diliat jauh dari laut ataupun diliat langsung di dari darat. Benar-benar mempesona! Kalian juga harus bisa melihatnya secara langsung.­

Surat ini kutulis setelah aku tanpa henti mengagumi bangunan-bangunan yang kulewati. Semoga ini juga bisa menjadi pengobat rindu nanti dan informasi menarik untuk para pembacanya.

Pulau Marabatuan, 11 Agustus 2017

Fayed, Pemimpi Tapi Tidur

Frambozen dan Aromanya

Sejak tibanya kami di Pulau Masalembo, Pulau Keramian, Pulau Mata Sirih, dan Pulau Masalembo, ada sesuatu yang berkesan di perjalanan ekspedisi ini, yaitu Frambozen. Untuk kalian yang tidak kenal Frambozen, lebih baik kalian harus mengenalinya sebelum pergi ke gugusan pulau ini, dan bagi yang sudah kenal dengan baik dengan Frambozen, tolong koreksi jikalau diriku ada kesalahan.

Tibanya kami di tempat ekspedisi utama, Pulau Marabatuan, Kami disambut oleh masyarakat lokal. Diriku bersama anggota tim ekspedisi lain dan ditemani anak buah kapal serta kapten, kami diantarkan ke tempat tinggal kami oleh salah seorang warga lokal. Kami tinggal di rumah Pak Hamdi dan bu Lena, di Desa Tengah, Pulau Marabatuan. Kami disambut dengan teh dan beberapa cemilan untuk pertama kalinya. Walau tidak begitu suka teh, aku tidak bisa menolak suguhan pertama kali dari si Ibu. Akhirnya

Kucicipi tehnya Sluuuurp…

Kuhirup aromanya Hmmm…

Kunyinyirkan bibirku yang merasakan kenikmatannya.

Ute mencium aroma teh

Diriku tidak begitu ngefans dengan yang namanya teh, Namun kali ini minum teh di pulau Marabatuan sangat bersensasi beda. Entah karena tehnya lebih enak atau bagaimana yang pasti lebih baik aja daripada teh-teh yang biasa ku minum selama ini. Sejak saat itu aku sangat ngefans dengan teh nya ibu Lena. Tiap disuguhi teh, sekarang aku selalu menyambutnya dengan semangat.

Keesokan harinya, Kami pun mulai menyebar untuk berkunjung ke Bu Camat, Kepala Desa, rumah-rumah lokal yang dipandang, ataupun rumah lokal orang yang biasa saja. Kak Aya, Kak Aisha, Kak Pale, dan diriku berkunjung ke rumah Pak Ali yang kebetulan rumahnya berada di sebelah kantor kecamatan. Tapi kebetulan pak Alinya sedang melaut dan hanya ada Emak dan anaknya yang masih bocah. Kami berempat berbincang tentang banyak hal sampai akhirnya si emak izin untuk ke dapur dulu. Setelah beberapa menit, Emak balik dengan membawa nampan yang sudah ada gelas-gelas kosong dan teko plastik berisikan teh. Dalam hati ku berpikir, wah ini tehnya akan seenak di bu Lena gak ya? Yasudah karena gak sabar lagi, aku izin menuangkan tehnya dan menyicipi sedikit demi sedikit. Ternyata oh ternyata, teh nya lebih enak dan lebih harum daripada yang biasa dibuat bu Lena. Kami berempat pun juga sepakat bahwa teh ini sedaap kali. Karena rasa penasaran, kami memberanikan dirilah untuk bertanya resep dibalik kenikmatan tehnya.

“Ramboseng.. tehnya dicampur Ramboseng” Kata si Emak setelah kami tanya. “Semua orang di Marabatuan suka pake Ramboseng,” tambah Emak. Kami bingung Ramboseng tuh apa, tapi kami tetap menahan rasa penasaran kami untuk saat itu. Selain tehnya, si Emak dan kami juga membicarakan tentang “Jepa”, makanan olahan singkong seperti pelapis krepes atau kebab ini telah menjadi makanan khas di Pulau Marabatuan. Kali ini kak Aya sangat penasaran dengan Jepa dan akhirnya dia minta Emak untuk menunjuki cara membuatnya. Akhirnya si Emak mengajak kami ke dapurnya untuk melihat pembuatan Jepa. Memanfaatkan momen ini, akhirnya kutanya pula juga terkait Ramboseng tadi, sebenarnya Ramboseng itu kayak gimana.

Setelah menjelaskan tentang Jepa, si Emak pun mengeluarkan botol kecil dari rak tuanya yang ternyata botol Ramboseng. Ramboseng ternyata berbentuk cairan yang disimpan di botol kecil layaknya botol parfum haji. Sayang, Rambosengnya sudah habis, tapi aku masih bisa mencium aromanya teh yang kuminum dari botolnya. Rasa penasaran kami pun terjawab dan akhirnya kami pamit setelah beberapa saat.

Ramboseng di dapur Emak

Foto dengan teh Emak

~~

Berhari-hari kami jalani ekspedisi. Tiap pagi, siang, sore, dan malam ku sempatkan minum teh yang selalu disediakan bu Lena di rumah. Sampai-sampai semua orang di rumah tau kalo aku ketagihan tehnya. Diriku menyebutnya sebagai Teh Ganja.

Dengan niat mau membawa oleh-oleh Ramboseng ke Bandung, akhirnya saat bu Lena ingin pergi ke pasar, aku nitip untuk dibelikan Ramboseng. Untuk sebotol hanya Rp 3000 ternyata. Yaudah berhubung harganya tidak begitu mahal akhirnya aku menitip 20 botol.

Kurang dari setengah hari, Bu Lena akhirnya kembali lagi ke rumah dengan membawa barang-barang dari pasar. Tapi saat itu diriku masih di luar mencari data. Sesampainya diriku di rumah, semua orang tampak nyinyir ke diriku dan ketawa-ketawa kecil. “Yed Rambosengnya udah ada tuh, ada di plastik kuning, tapi coba jangan lupa liat komposisinya.” Kata salah satu temanku. Lah aku dibilang gitu jadi mikir macem-macem, wah ada apaan emang komposisinya. Kucari dan kubuka lah kresek kuning basah di pojokan itu. Wah ternyata Rambosengnya bewarna merah pekat kayak marjan stroberi. Tulisan Ramboseng juga ternyata tidak seperti cara bacanya, aslinya bertuliskan Frambozen. Logat Mandar dan Bugis lah yang bikin jadi ada “eng” di bagian akhirnya. Kuputar-putar botolnya untuk mencari label komposisi, tulisannya tidak begitu besar dan tidak begitu kecil, tapi yang pertama kali kulihat adalah “Mengandung Alkohol”. Matilah diriku!!. Kubaca lagi dengan teliti ternyata Frambozen mengandung kurang lebih 95% Etanol dan 45% Alkohol dan bahan lainnya. TAMBAH MATILAH DIRIKU!

Awalnya tidak percaya sama sekali, lah mana mungkin bu Lena yang orang Islam serta orang-orang Marabatuan yang semuanya juga orang Islam suka pake Frambozen. Akhirnya juga masih tidak percaya sih.

Setelah kami semua tau bahan Frambozen sebenarnya, kami meminta bu Lena untuk tidak pernah menambahkannya lagi ke minuman kami. Ya ternyata rasa tehnya biasa aja kalau tidak ditambahin Frambozen. Keesokan harinya pun kami lanjut pulang ke Pulau Mata Sirih dan Pulau Keramian. Ternyata oh ternyata, di pulau-pulau sekitaran lainnya juga hobi menambahkan Frambozen ke minuman dan makanannya. Di bukit Pulau Keramian, kami tidak sengaja memakan martabak yang ada Frambozen warna kuning. Di warung baso di Pulau Masalembo, kami juga menemukan es campur yang aromanya sangat khas seperti Frambozen. Karena masih bingung dan keheranan kenapa orang-orang di sini masih suka menggunakannya, akhirnya aku berasumsi sampai sekarang kalau Frambozen masih halal-halal saja dan tetap membawa Frambozen yang telah kubeli di Pulau Marabatuan untuk ke Bandung. Walaupun sebenarnya ada rasa khawatir banget, tapi kayaknya nanti aku coba tanyakan ke orang yang paham dulu. Di sini tidak ada sinyal internet soalnya makanya gak bisa nanya langsung lewat Line atau Whatsapp.

~~

Nah untuk kalian yang sekiranya mau berkunjung ke gugusan pulau ini; Pulau Masalembo, Pulau Keramian, Pulau Maradapan, Pulau Mata Siri, Pulau Marabatuan, dan sekitarnya, lebih baik hati-hati. Kalau kalian menganggap enteng yasudah bertingkah seperti biasa aja, tapi kalau kalian benar-benar seketat itu akan kehalalan lebih baik tanya di setiap makanan/minuman yang kalian akan konsumsi di sini karena memang Frambozen ini kayak udah jadi “mecin” alias penyedap rasa yang sudah lumrah di sana.

Biasanya makanan/minuman yang dikasih frambozen ini rasanya enak bangeeet nget! Aromanya sangat menyengat dan itu udah jadi khasnya tersendiri. Harus waspada juga untuk sesuatu yang berkuah merah, kuning, dan orange. Mungkin kalian akan lebih gampang mengenalinya kalau sudah sering minum atau makan dengan sendiri, kayak saya huh.

Surat ini diriku tulis setelah Anak Buah Kapal sangat tertarik dengan kisah Frambozen di Marabatuan, akhirnya kuputuskan untuk aku cerita di sini juga.

KP Sabuk Nusantara 57, 15 Agustus 2017

Fayed, Pemimpi Tapi Tidur

Halo Pulau Marabatuan

Halo Pulau Marabatuan, akhirnya kita bertemu. Dari jauh ku sudah dapat melihat puncakmu. Pulaumu tidak sebesar seperti yang kubayangkan. Bahkan peta di internet menunjukan lokasi yang salah akan pulaumu. Kau benar-benar sejauh itu dari Jawa, apakah kamu merasa sedih?

Halo Pulau Marabatuan, akhirnya kita bertemu. Di mana dermaga barumu? Kenapa yang kulihat hanyalah reotan kayu yang disusun di atas batu karang? Padahal banyak kapal yang mengelilingimu. Kau benar-benar setimpang itu dari Jawa, apakah kamu merasa sedih?

Halo Pulau Marabatuan, akhirnya kita bertemu. Aku meminta izin untuk menginjakkan kaki di tanahmu. Aku harap kau benar-benar mengizinkan. Karena aku yakin yang akan aku bawa merupakan hal yang baik bagi dirimu.

Halo Pulau Marabatuan. Perkenalkan aku, ekspeditor ENJ ITB 2017.

Kami berjanji tidak akan menganggu apa yang udah ada di Pulaumu. Serta kami datang bukan untuk memberi ilmu, tetapi untuk mencari ilmu.

Perairan Marabatuan, 8 Agustus 2017

Fayed, Pemimpi Tapi Tidur

Langitnya Laut Masalembo

Akhirnya hari pertama di pulau, hari yang ditunggu-tunggu, telah datang. Destinasi pertama kami dalam perjalanan berhari-hari tampak luar biasa indahnya. Kami yang berkumpul di anjungan depan pantai terus membuka mata lebar untuk menganggumi hijau birunya pemandangan di hadapan kita. Angin pun juga tampak bahagia karena berputar-berputar dingin di badan kami.

Dermaga beton tua sedang menanggung beban-beban manusia yang sudah siap menyambut kerabat, keluarga, bahkan bahan jualannya. Tiap orang bergotong royong untuk saling membantu menurunkan dan menaikkan muatan dari kapal. Diriku yang jarang melihat aktivitas pelabuhan sangat terkesima, ternyata ini yang orang-orang biasa lakukan di dermaga.

Selain tim ekspedisi dan masyarakat ternyata ada orang lain yang disebut sebagai penumpang kapal. Mereka adalah Anak Buah Kapal (ABK). Mereka tampak baik, padahal baru sehari tetapi mereka sudah akrab atau banyak berinteraksi langsung dengan kita. Pagi itu, tim kami sudah kehabisan stok makanan dan berniat untuk turun ke Pulau Masalembo berhubung kapal akan bersandar untuk waktu yang cukup lama. Siapa sangka, para ABK juga sedang kelaparan, akhirnya mereka menawarkan kami untuk makan bersama di warung tempat kesukaan mereka; Warung Bandar Syahbana.

Bersama beberapa awak kapal serta kapten kapal, di warung makan, kami disuguhkan makanan-makanan seafood dan minuman es soda gembira. Tapi minuman es di sini tidak terlalu berdampak karena suhu di pulau sangat panas. Lalu ada makanan seafood yang baru kulihat pertama kali yaitu cumi dengan tinta sebagai kuahnya serta udang kipas goreng. Sayang, kami datang di bulan delapan. Katanya kalau kita datang pada bulan sembilan atau sepuluh akan lebih banyak variasi seafood seperti rajungan dan lobster. Secara keseluruhan makanan, minuman, suasana, dan momen kebersamaan dengan seluruh tim ekspedisi dan kapten beserta anak buah kapalnya benar-benar membuat awal perjalanan ini semakin menarik.

Sejam setelahnya, berhubung kami butuh untuk membeli barang, yaudah beberapa dari kami, Isma, Sidik, Slam, dan diriku, pergi menyusuri jalan utama pantai untuk mencari pasar terdekat. Perumahan di jalanan yang kami terlusuri sudah cukup modern. Banyak toko elektronik, counter HP, bahkan tempat karoke kecil. Sudah banyak mobil dan motor juga yang lalu lalang. Tapi hal tersebut tidak membuat pulau ini “sedikit modern” dalam berjualan hasil tangkapan ikan. Mereka masih berjualan secara eceran di pinggir jalan. Pasarnya juga terkesan sporadis karena tidak memiliki tempat yang khusus. Pasar yang kami kunjungi kebetulan berada di gang-gang antar rumah warga dengan fokus barang sandang dan pangan sebagai bahan dagang.

~~

Kurang dari tiga jam kami menginjakkan kaki di pulau pertama dari pulau-pulau yang akan kami kunjungi. Impresi awal perjalanan sudah sangat baik. Pantainya benar-benar mengelilingi pulau secara keseluruhan. Bahkan sebuah rumah warga biasa saja sampai punya halaman belakang pantai putih sendiri. Di sepanjang perjalanan, terutama saat menyusuri trestle dermaga, aku tiada henti terus bersyukur dan memuji-Nya karena laut di sini bagaikan langitnya, sangat bening serta terlihat biru dan hijau. Bahkan melihat kapal-kapal berlabuh saja sudah seperti melihat kapal yang mengapung di udara. MasyaAllah!

Diriku kadang bersyukur di pulau ini tidak ada sinyal telekomunikasi. Mungkin jikalau ada, aku akan terlalu sibuk dengan memamerkan apa yang kulihat lewat akun instagramku (@fayeddd). Tapi sekarang, aku bisa membiarkan lensa mata dan kameraku lah yang menikmati keindahan pulau dan membiarkan surat ini menjadi cerita untuk kalian.

dan..
Perhentian selanjutnya, Pulau Keramian. Sampai jumpa di sana!

Sanus 57, Pulau Masalembo, 6 Agustus 2017

 

Fayed, Pemimpi Tapi Tidur

Surat Perintis Ekspedisi

surat lama yang baru dapat dipublikasikan sekarang

Aku teringat sore itu di saat Jembatan Pasopati meneduhkan kami dari hujan rintik Bandung, Kami adalah orang-orang Kementrian Relakan Kabinet Suarasa ITB yang sedang bersilaturahmi sambil menunggu waktu magrib tiba. Diriku juga kebetulan termasuk orang-orang itu. Di tengah perbincangan, HPku tiba-tiba berdering dan menunjukan layar telepon masuk dari Isma, teman kepanitiaanku di awal tahun 2017. Semua ucapan darinya terasa sangat tiba-tiba dan terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Karena saat itulah dia pertama kali memperkenalkan program Ekspedisi Nusantara Jaya kepadaku dan aku tiada henti menjawab “mau ikut” setelah tiap kalimat keluar darinya.

Untuk kalian yang juga belum tahun apa itu Ekspedisi Nusantara Jaya, sepertinya boleh untuk aku ceritakan sedikit. Program yang biasa disingkat sebagai ENJ ini adalah acara tahunan dari Kemenkoan Kemaritiman Republik Indonesia. Sudah tiga tahun acara ini dilaksanakan termasuk tahun ini. Negara mengundang orang-orang umum, pemuda SMA dan  mahasiswa untuk menjadi bagian dari petualangan dan pengabdian ke pulau-pulau terluar ataupun terpencil di Indonesia. Kita dijadikan perancang acara secara keseluruhan dan negara sebagai pembantu dan pendukung pendanaan.

Singkat cerita dan dengan rasa syukur, perjuangan dan persiapan diriku akan ekspedisi ini terbuahkan hasil. Diriku akhirnya dipertemukan dengan dua puluh enam mahasiswa ITB dari lintas angkatan dan jurusan. Walaupun sebenarnya dalam proses pertama kali ku mendaftar hingga hari minus satu keberangkatan semuanya tampak abu dan tidak jelas, tetapi nyatanya semua anggota tim ekspedisi ITB ini masih tetap bertekad dan semangat untuk terus melanjutkan ekspedisi. Mereka adalah Fadli (MK 18), Pandu (MS 15), Satria ( TL 15), Ka Ais (BW 14), Bang Andre (TG 14), Antal (KL 16), Zalza (KL 16), ka Dhany (TL 13), Isma (PL 15), Kevin (MK 18), ka Mila (KL 13), ka Pale (TM 14), Amsyari (SI 16), ka Hardian (KI 14), Rian (GD 15), bang Rafid (TA 13), Slam (TG 16), Sidik (SA 16), ka Aya (BA 14), teh Sofia (BA 13), Sonny (GD 15), ka Ute (BW 14), ka Wahyu (EP 13), ka Yul (PL 14), ka Yongky (EL 13), dan terakhir diriku Fayed (KL 15).

Tim Ekspedisi ENJ ITB 2017

Kami meniatkan diri untuk mengabdi ke Pulau Marabatuan, Kalimantan Selatan sejak tanggal 4 hingga 17 Agustus 2017. Alasannya kenapa ke Pulau Marabatuan? aku masih tidak begitu yakin sampai sekarang. Tapi sepertinya karena memang pulau ini jarang dilirik dari luar dan tapi masih dapat terjangkau oleh kami yang dari Bandung. Berdasarkan informasi yang didapat, pulaunya memang seterpencil itu bahkan sinyal hp hampir tidak ada. Akses untuk ke pulau itu juga hanya ada Kapal Perintis Sabuk Nusantara 57 dan kapal nelayan yang sepertinya hampir imposibble dipilih.

Kapal Perintis Sabuk Nusantara 57 ini lah yang nanti akan mengantarkan kami ke Pulau Marabatuan. Berangkat dari Tj. Perak, Surabaya dengan tujuan akhir Kotabaru, Kalimantan Selatan. Pulau Marabatuan adalah destinasi terakhir kedua setelah Pulau Masalembo, Pulau Keramian, dan Pulau Mata Siri serta sebelum Batu Licin dan Kota Baru. Berdasarkan estimated time of arrival, kapalnya baru akan sampai Pulau Marabatuan setelah 3 hari 2 malam dari Surabaya, Lamanyee. Aku gak begitu kebayang juga awalnya tentang kapal ini, tapi ternyata kapalnya lebih bagus dari dugaanku. Kapan-kapan lah aku cerita tentang kehidupan di kapal sanus ini. Untuk ke Surabaya kami menggunakan Kereta Pasundan. Berangkat dari Stasiun Kiaracondong, Bandung dan turun di Stasiun Gubeng, Surabaya. Di kereta tidak begitu banyak kenangan menarik, tapi Alhamdulillah cukup mengeratkan pertemanan kami sebagai tim.

Bicara tentang tim, jujur persiapan kami tidak begitu terasa banget secara tim, tapi diskusi dan perencanaan apa yang akan kami lakukan sepertinya sudah cukup matang. Buktinya, sekarang, kami sudah bisa sampai di kapal dengan aman, walaupun kita naik kapal saat keberangkatannya 10 menit lagi. Tapi ya itulah yang kadang bikin seru, pengalaman-pengalaman tidak terduga.

Oh iya, misi utama kami nanti adalah untuk memperkenalkan potensi kemaritiman Indonesia dan informasi pekuliahan serta pencarian data & informasi di bidang pendidikan, kesehatan, kebudayaan, ekonomi, sosial kemasyarakatan dan pariwisata. Kami juga sudah sepakat untuk tidak “mengajarkan” mereka tapi lebih ke “belajar” dari mereka, serta tidak “memaksa” kuliah tapi lebih ke “mengajak yang mau” kuliah. Pengalaman mengajarku di Skhole juga kuharap bisa berguna nantinya, entah apakah anak-anak di sana akan sama seperti biasa anak yang kuajar atau tidak, lihat saja nanti.

~~

Waktu itu tanggal 3 Agustus, kami dilepas oleh pak Sonny, dari pihak LK dan pak Hendar, dari pihak kemenkoan. Ada juga kak Ardhy yang ngasih sambutan selaku perwakilan Kabinet. Kak Ardhy bicara tentang Nusantara, pak Sonny bicara tentang keselamatan kita,dan pak Hendar terus mengingatkan kalau ekspedisi ini harus bisa mencerdaskan ekspeditor dan masyarakat tentang kemaritiman. Baru sambutan aja udah banyak inspirasi yang didapat, apalagi nanti, pikirku.

Waktu itu tanggal 4 Agustus, kami hampir seluruh tim segerbong kereta antusias untuk saling berbagi hal tentang pernikahan, pengabdian masyarakat, Skhole, Gebrak, Satoe Indonesia, ilmu fotografi, ilmu sosial, dll. Baru di kereta aja udah banyak inspirasi yang didapat, apalagi nanti, pikirku.

Sekarang tanggal 5 Agustus, kami semua sedang duduk di kapal. Menunggu bahtera ini berlayar menjauhi pulau Jawa dan mengantarkan kami ke pulau yang katanya sangat mendewakan pulau Jawa. Sambil menatap ke luasnya laut, jingganya langit, kabutnya Madura, dan wajah-wajah bimbang teman-temanku, diriku berharap untuk bisa nanggung amanah ini dengan baik dan kembali dengan sejuta inspirasi yang patut diceritakan.

Jingga Langit Laut Jawa

Diriku sudah tidak sabar untuk menulis apa yang bisa kutulis dan kuharap kalian juga antusias untuk membaca apa yang akan kutulis.
Terakhir, Bismillah, Selamat tinggal Jawa, sampai bertemu lagi.

Sanus 57, Selat Madura, 5 Agustus 2017

Fayed, Pemimpi Tapi Tidur

Yogyakarta Journey. Final Ch.

A non-special day, Really not special. We would back to Bandung on this day and I thought this was not enough. I still wanted to explore Jogja and tasted more hidden food. But the conditions didnt really support me. I didnt have much money left and my friend which also as our travel guide , Hilmi, had something else to do. So I would be alone and moneyless if I stay there.

Day 4

It was still 8 in the morning and we didnt have many plans today, eventhough we must be on the train station at 3 PM. We started the day with playing cards in the main hall of the house. After 1 game of “Warewolf”, we ended it. Next we packed up our belonging and ready to leave the house.

We were searching a restaurant until suddenly my friend reminded the others that we had not been in Malioboro. Well, guess who have a place to be visited now. So we traveled to Malioboro. Dont laugh at me, but in fact, it was my first time visiting and knowing Malioboro. For me the street was not really that good but still i quite enjoyed the vibe.

As a Batik wear fan, I entered a Batik Shop, probably the biggest one in there maybe. There were a lot of Batik collection which were so cool and fancy. Started from the Blanko or Cap until Kebaya or blouse. I fell in love with one of the batik shirt. The batik was created by hand or known as Batik Tulis or Written Batik. This kind of batik has a really high price. If only i had a big amount of money, probably I am already wearing it now.

I ended my ease in Jogja, It was 3 PM already. We drived to the station. We leaved Jogja and waited 8 hours while the train was moving. Then there was no such things to be told anymore.

Miss you Jogja.

…the end…

Yogyakarta Journey. Ch 4 : Jogja’s Beach

This story is specially written for my Indonesia Oceanography Lecturer, Dr.rer.nat. Mutiara Rachmat Putri.

Day 3, It was supposed to be our holiday peak. Because we were going to visit special beaches in Jogja. We were so exciteeeed!! but..

We woke up quite late this time, maybe because yesterday was really exhausting. Today we were being lazy, sleeping and watching tv while had a snack and etc. We ended our sloth-alike when noon came. We prepared all things mentally and physically. Btw we used white clothing as dresscode, I didnt know who start this smartupid idea. Then we leaved the house and ready for the adventureee!

Day 3

We started the journey with eating in Waroeng SS or Waroeng Spesial Sambel or Special Sauce Restaurant. We ordered variations of food and sauce. They were delicious and spicy. This might be the hottest food I had ever taste when I was in Jogja.  We didnt spend much time there, only half hour and then we leaved. Next we went to our main destination; Wediombo Beach.

We used an alternative route so we can see the sea from the roads. The first thing that crossed my mind when I saw the sea was be like “Oh it must be short wave! Where is the Seas area? Oh I can see the Swell! Oh it must be the Surf area where the h/H is more than 0,78 and the wave will break!”. I was quite proud that finally my knowledge from the lectures can be used in reality.

After 3 hours trip, Finally we arrived at Wediombo Beach. In truth, it can be reached for 2 hours, but because of the alternative route it prolonged the trip. To reach the beach, we need to walk down through the stairs. Eventhough it was quite exhausting, everything became positive again when finally we could see the beach from close distance. MasyaAllah the beach was so beautiful. Most of south beach have so many rocks and corals, so no wonder that Wediombo Beach was not that smooth. Besides of many corals, there were also many of people. We didnt like the crowd, It made us not free to play. So we just walked along the beach while enjoying the scenery.

In the middle of our walking, Suddenly one of my friend said that there is actually a very good beach which is beside Wediombo Beach. He said that we could reach it with just walking. Then we agreed to go there, maybe it was better to have a little walk again to reach the more beautiful beach.

Furthermore, We walked inside the brushes and went out with very different atmosphere. It was like in Narnia or typical magical story. We entered into brushes and went out to very wide rice fields. We walked cross the field and kept going east. Also we didnt forget to have a pose for photos. The terrain wasnt easy to go through, some of us had troubles with walking in here. Step by step, eventually we could hear the wave sound. Ah I was so happy and couldnt wait to see the beach.

All struggles was paid off after we saw the white-sandy beach. It was much much more amazing than Wediombo Beach. This beach is called Jungwok Beach. There were less people and rocks. I looked to the right and left and still not believed what i saw.

Jungwok beach has own special thing. There was a unique small island which was called Jungwok Island. I guess the island was created by vulcanic eurption’s rock. That island broke the wave so the north side of the beach had a smaller surf wave. Where the south side had a very big surf wave. If only i could do the surfing, probably I were already enjoying that big wave. Anw The weather was also perfect; It was warm and shiny.

So for the first hour, I spent the time to swim with Rais. Since the wave was on tide and too big, so we didnt swim too far. Meanwhile my other friends enjoyed the beach with sitting and sunbathing under the trees.

For the next hours, we decided to have a creative photo sessions. eh I meant the boys. Yeah we were the boys had stupid ideas of poses. We set the shutter speed faster and ulala! we had a bunch of cool photos.

Afterwards, we eated Mi Goreng or fried noodle in local stall. Eating together along the beach with the unlimited wind and wave and white-sandy beach were just great. Its been a quite long time I never feel this peaceful feeling. Probably it was one of the best decision I’ve made that moment because I almost felt that “Life is starting to get away from me”. So maybe I could say…

“I travel is not because i want to run away from life but because I dont want life run away from me.”

The time showed nearly 6 pm. We didnt want to miss the chance of seeing sunset, so we went back to Wediombo Beach because we couldnt see the sunset from here.


We were happy to be together here in the beach when the sun was sink. That moment was also the last thing we did in the third day before we went back to the house and sleep.

…last day story will be in chapter 4

Yogyakarta Journey. Ch 3


Ocean Engineer. Well this type of engineering must love fluid or water. Why? Because that is a what we are calculating and approaching. And our field will always meet fluid (expect you decide to work on bank).

To love fluid much more, we need to love play water as much as posibble. So whenever we go to holiday, we should go to river, estuary, lake, beach, sea, and island. Like what we did in our journey to Jogja!

Second Day

Second time wake up was different. We all had a very happy feeling, probably because we had spent a day together and was so good. We took a breakfast with “Pecel” because we would go to a very far place. The Pecel in Jogja was special, The huge serving combination of vegetables with peanute sauce plus fried duck egg made a rich taste. Yummy!

In this day,  We visited Kulon Progo to feel the experience of swimming in Sungai Mudal or Mudal River. It took a very long time ride but the scenery was just so good, so I didnt feel bored at all.

We finally stepped our foot in Mudal River at 11 AM. The location was on foothills. We needed to walk a little bit again if we use a car. From the its name, I thought it is a plain river, like a normal river that i used to see in Jakarta and Bandung. But in reality, it was different! The river was unique. From my view, It was most likely waterfalls with many pools. We walked across and cross the river through wood path and bridges. We stopped at big gazebo in uphill and prepared to feel the water.

The water in here was green (or maybe blue, I wasnt quite sure). The deepest pool had 2 meters depth. We really enjoyed playing around and since it was midday, there were no many visitors.

We ended up our journey in Mudal River with eating in small restaurant nearby. As a Jakarta and Bandung people, I DIDNT REALLY FAMILIAR WITH THESE PRICES. In here all foods and drinks were cheap, even the ice cream. I was really confused how they could get a profit from selling like that.

After Mudal River, we traveled to Waduk Sermo or Sermo Reservoir. This Reservoir splits Ngrancah river with average 20 meters depth. There was nothing so special here. We only spent less than 1 hour here with riding a boat. Although we were lucky enough to see the beauty of the sunset here.

The sky was going dark,  we leaved from there and headed to Jogja town. Because of our greeds to food, we felt hungry already haha. We closed the journey of second day with eating mushrooms in
Jejamuran. A big and famous restaurant for mushrooms culinary in Jogja. The place was very nice and cozy. The menus were also diverse. And then again, I DIDNT REALLY FAMILIAR WITH THESE PRICES! It was too cheap for me, should i feel good or bad? I dont know.

We finished the journey and ended up sleeping like a buffalo because what else is good after eating except sleeping.

…dont forget to check chapter 4

Yogyakarta Journey. Ch 2

We were looking for food and good places to play around. And we already knew where we would go.

First Day

Before arriving to our house. Actually we went to a food stall, or Angkringan as it is called in local. It was 3 am in the morning. Jogja was not really cold like what i thought. It was mild instead, which is great.  The Angkringan that we were headed was Kopi Joss Angkringan. It’s located in main street of Jogja; Lempuyangan Street. You guys should check the menu because it was so unique. *Spoiler* There was a special drink which the coffe was mixed with hot charcoal.

We didnt have much time to relax in the house. So after a short break, we directly drived the car to a Bantul Area. There was a famous type of food; Sata Klatak or Klatak Satay. Instead of using wood, this satay uses iron bars. We choosed Pak Pong Sate Klatak and it was so delicious and yummy! really recommended.

Then after fullfilling our stomach, we went higher to Kebun Buah Mangunan or Mangunan Fruit Garden. We expected to see many fruits since the name is fruit garden. But in the reality there was no fruit at all (or maybe i didnt see it). Eventhough we couldnt see any fruits around but there was interesting spot which had a magnificient view of Bantul. Well we just couldnt miss the chance, so we spent for 2 hours just for taking many pictures as we could.

It was 4 pm, We planned to go back to the house but then we discovered another cool place; Hutan Pinus Imogiri or Imogiri Pine Forest. We used to see this kind of place in Bandung (Tahura), but this was much cooler, eventhough it was still in development. There were many tree houses and big logs to sit and relax. In fact, based on google, there was a theater which was made by logs. But poorly we didnt go there.

Then we backed home in latenoon. We all were tired so we ended this first day journey.

…See you in chapter 3