Udara Bandung Malam

Pardon my Bahasa Indonesia

Malam ini, Sekitarku bukan lagi mereka seperti biasanya. Mereka sedang jauh, jauh untuk melakukan kewajiban masing-masing. Ya aku sendiri. Mungkin kesendirian ini akan berlangsung lama, tetapi kuharap tidak.

Seminggu lebih setelah dia tidak bisa kurasakan lagi kehadirannya. Perasaanku lebih tenang, daripada beberapa hari pertama, sepertinya. Malam ini, aku pergi mencari ketenangan lebih, yang kuyakini bisa didapatkan di rumah-Nya. Sepanjang perjalanan aku hirup Udara Bandung Malam sembari mencari bulan yang biasanya tampak menemani.

Udara nan sejuk telah membuat otak ku tenang. Saat itulah waktu yang tepat untuk diriku mencari teman, teman yang sesungguhnya. Aku bukan orang gila, tetapi diriku adalah temanku yang sesungguhnya. Aku bertanya pada dia, aku pula yang menjawab. Aku menasehati dia, dan aku pula yang angkuh untuk menerima nasehat itu. Saat itu aku akan banyak berkaca dan bercermin.

Pada akhirnya sebuah dialog ceritapun tercipta, tetapi itu hanya akan menjadi rahasia diriku, temanku, dan Penciptaku.

Terima kasih udara malam Bandung. Karenamu aku harap diriku bisa lebih bijak.

Leave a Reply