Tertangkap Badai

Pagi ini, kalender perlu diganti halamannya demi November yang ingin dipampang. Bulan yang sejak dulu telah mengubah dan juga menempa diriku agar menjadi sosok yang teguh. Juga bulan yang senantiasa membuat hidup ini menarik, karena di saat itu lah hujan datang untuk menemani diri yang tertangkap badai.

~~

Sudah dua puluh tahun aku hidup. Pengalaman ini seharusnya sudah bisa membuatku banyak berpikir jernih dan hati-hati dalam menentukan jalan. Tapi selalu saja, aku adalah nahkoda yang bandel dan bodoh. Masih saja memilih jalan yang aku tahu akan ada badai di depannya.

Tiap siang, aku melihat pergerakan angin dan merasakan bagaimana panasnya laut. Serta menjadikan matahari sebagai penunjuk arah. Terus bergerak ke arah yang benar. Walau sialnya, matahari kadang ada dan kadang tidak.

Saat malam, aku tersesat. Aku hanya bisa berharap dapat berjumpa dengan gelombang besar. Gelombang yang bisa membawa diriku ke titik tertinggi dan juga bisa menenangkan diriku ke titik terendah. Sehingga aku akan mabuk. Aku akan senang. Aku akan menikmati malam ini dengan sebaik-baiknya dan tidak peduli kalau aku sedang tersesat.

Pagi tiba, aku bangun dengan tak tersadarkan diri. Memikirkan aku telah di mana, dan menyesalkan tiap perbuatan yang kulakukan kemarin malam. Begitulah kehidupan sehari-hari sang nahkoda.

Hari pelayaran akan berbeda saat memasuki bulan November. Aku tetap malakukan hal bodoh seperti hari-hari biasanya, tapi angin semakin kencang dan berhembus tidak beraturan. Suhu lautpun mulai terang-terangan menunjukkan perbedaan. Gelombang besar yang biasanya datang untuk memabukkan, kini menjadi memusingkan. Hujan datang dengan lebat dan tiada hentinya mengetuk lantai kayu perahuku. Saat itulah, badai datang. Membuatku tetap tersadar dan harus berjuang dengan gigih.

Pikiranku mengatakan aku sedang tertangkap badai, aku harus keluar.

~~

Bertahun-tahun memang aku selalu keluar dari badai itu, tapi aku tidak bisa memastikan untuk badai di tahun ini. Sebab, badai ini sangat menarik diriku. Aku merasa di dalam badai itu ada sebuah pulau kecil indah. Pulau yang aku ingin labuhi, untuk sekedar beristirahat dan menjadikannya rumah. Juga pulau yang sekiranya bisa menjadi jawaban akan perjalanan diriku yang tidak jelas tujuannya. Tapi mungkin itu hanyalah sebuah perasaan, perasaan yang tidak diiringi akal.

Entah aku harus bagaimana, yang penting semoga badai ini bisa menjadi yang terbaik selama 20 tahun ini.

 

Bandung, 1 November 2017

 

Fayed

Leave a Reply