Skhole dan Fayed

Dua hari sebelum keberangkatan Ekspedisi menuju Kalimantan, diriku banyak mengingat terkait jalan hidup yang telah ditempuh selama 2 tahun di kampus Ganesha ini. Salah duanya adalah mengapa diriku mau menjadi anggota Skhole sejak awal dan mengapa aku masih tetap bertahan di sini.

Sejak SMA aku tidak pernah membayangkan diriku akan terjun ke dunia pengabdian masyarakat ataupun hal-hal yang terkait dengannya. Saat itu yang ku tahu tentang ITB adalah kampus tempat orang ambis. Walau nyatanya, ruangan yang ku lihat lewat lubang kunci pintu tersebut masih memiliki banyak hal di dalamnya.

Aku ingat di saat kegiatan Open House Unit ITB 2015, organisasi yang kudaftar hanyalah Skhole dan Bebek. Keduanya aku daftar sebagai rasa syukur karena telah diterima di ITB. Aku ingin menyebarkan manfaat dari keberuntunganku ke anak-anak terutama anak Yatim Piatu. Ya membantu anak Yatim Piatu merupakan nazarku jikalau aku diterima di ITB.

Sebuah Pertemenan

Proses Penerimaan Anggota Baru Skhole yang sebagai gerbang awal untuk menjadi anggota resmi Skhole telah mempertemukanku dengan banyak teman baru; Dira, Ical, Iffah, Virdi, Marsha, Ulfah, Irfan, Tamara, Dewi, Saghita, Sepcan, dan Dwi. Diriku juga semakin akrab dengan Bimo, laki yang aku temui di toko buku, dan Faris, sahabatku sejak SMP, saat tau mereka juga mendaftar di Skhole. Faris, Bimo dan Aku akhirnya mendaftarkan diri sebagai pengajar di Rumah Belajar Cicaheum. Di Cicaheum pula diriku semakin banyak mengenal teman baru; Prana, Fahmi, Badruddin, Dita, Elis, Tamara, Gita, Thea, Stella, Rizki, kPras dan Gendis. Kami biasa berangkat dan pulang bersama naik angkot Caheum Ledeng. Momen kebersamaan itulah yang mempernyatukan kita, dan di saat itu pula pertama kali aku merasakan kenyamanan dan kebersamaan dengan orang-orang yang peduli dengan masyarakat.

Selain mereka , teman seangkatan Skhole, sebenarnya juga ada banyak sosok kakak tetua Skhole yang aku temui. Mulai dari yang perempuan dengan sifat keibuannya hingga sifat keliarannya ataupun laki-laki mulai dari yang ngaco hingga yang berwibawa. Mereka semua kupandang sama , yaitu sebagai kakak-kakak hebat yang sudah merelakan waktunya demi masyarakat dan Skhole. Mereka adalah kak Arif, kak Amel, kak Fitri, kak Tantra, kak Imin, kak Riska, kak Kinan, kak Neli, kak Putri, kak Pebi, kak Dina, kak Yoga, kak Agung, kak Lulu, kak Ita, kak Alya, kak Fazat, kak Onny, kak Pono, kak Ala, kak Yana, kak Burhan, dan kak Taro. Wah banyak sekali ya.. haha. Ya memang sebanyak itu kok kakak-kakak kerennya, apalagi alumni-alumninya 😀

Pembelajaran Lebih Awal

Keaktifan mengajarku memberikan efek samping, yaitu diamanahkannya diriku menjadi ketua Musyawarah Skhole yang mana merupakan pemilunya pemimpin Skhole. Diriku yang dulu bodoh itu akhirnya belajar terkait keorganisasian untuk pertama kalinya. Sebenarnya aku menyesal karena waktu di SMA tidak membuatku pintar akan hal ini.

Sejak memimpin Musyawarah Skhole, aku mulai percaya diri dalam pengembangan diri. Aku semakin menagih hal-hal yang aku belum tahu terutama terkait kepemimpinan dan keorgansisasian. Untungnya semua itu bisa didapatkan di Skhole dan nyatanya semuanya semakin menarik.

Semakin menarik, contohnya di saat kami harus mengurus proses penerimaan anggota baru yang mana maksudnya adalah kaderisasi. Ternyata kaderisasi gak buruk-buruk amat ya.. haha aku jadi merasakan esensi hal yang dulu aku anggap remeh. Diriku juga jadi semakin terbiasa untuk berkumpul efektif, bekerja terstruktur, dan begadang (serius). Lalu..

Skhole Pahlawan

Masa transisi tingkat satu ke dua merupakan sebuah tantangan tersendiri, banyak teman Skholeku yang akhirnya terlalu sibuk dengan jurusannya dan ada pula orang-orang yang akhirnya kembali aktif ke Skhole. Aku mengerti tiap-tiap orang pasti memiliki alasannya tersendiri.

Tapi transisi ini tidak terlalu berpengaruh terhadapku. Aku bersyukur bisa sangat dekat dengan teman-teman Skhole lainnya sehingga hampir tidak pernah ada pemikiran untuk menggantikan mereka dengan yang lain. Lagi pula saat itu juga ada anggota baru Skhole yang mana angkatan 2016. Mereka semua baik dan sangat semangat. Aku bisa melihat bagaimana mereka mau berkembang di Skhole ataupun tempat lain dan menyebarkannya ke anggota Skhole lainnya. Walau lebih muda tetapi sudah sangat menginspirasi. Ya akhirnya aku jadi semakin betah untuk dekat dengan mereka. Aku harap kalian tidak pergi ya di masa transisi ini.

Skhole di tingkat dua, diriku dan teman seangkatan lainnya , harus mempersiapkan diri untuk meneruskan kepengurusan. Ya ini memang sebuah anomali di organisasi ITB.  Tapi kepengurusan di tingkat dua inilah yang ternyata membuatku semakin berkembang di Skhole. Saat itu Faris, Bimo, Dira, dan Aku maju untuk menjadi calon kepala sekolahnya. Sebuah momen bersama kami untuk mengikatkan diri dan mencari tahu lebih dalam tentang Skhole. Siapa sangka, Skhole yang selama ini aku pikir hanya tempat mengajar, ternyata memiliki peran yang lebih dalam. Hal ini karena Faris telah menemukan mimpi Skhole versi kak Naya, Kepala Sekolah Skhole pertama. Kami berempat pun jadi gemar mendiskusikan hal tersebut dan akhirnya kami sepakat untuk membawa hal itu di kepengurusan siapapun yang akan terpilih.

Singkat cerita, terpilihlah Faris sebagai kepala sekolah baru. Faris menamakan badan kepengurusan Skhole tahun ini sebagai Skhole Pahlawan. Hal ini diturunkan dari Visi nya Faris yang sebenarnya juga merupakan Visi nya kak Naya, Skhole-ITB Mengajar. Faris ingin kita memantik pergerakan pendidikan di ITB dengan cara menjadikan anggota Skhole sebagai pahlawan pergerakan pendidikan di kampus dan juga menularkan kepahlawanan ini ke orang-orang lain terutama massa organisasi lain sehingga orang yang tertular ini bisa menularkan lagi ke organisasinya. Wah asik ya doktrin-doktrinan gitu haha.

Faris juga mengamanahkanku untuk memegang jabatan Sekretaris Jenderal, lagi-lagi ada hal baru yang kudapatkan di Skhole. Amanah ini sangat berat bagiku tapi itu telah yang membuatku semakin cinta dan bertahan di Skhole. Jika boleh flashback lagi, waktu aku dilantik menjadi anggota Skhole, diriku diberikan sebuah kalung yang sangat sederhana. Kalung yang terbuat dari benang kasur dan sehelai kertas ini bertuliskan “Amanah tidak akan salah memilih pundak”. Kalimat singkat ini selalu menyakinkanku bahwa Skhole benar-benar butuh aku, aku benar-benar butuh Skhole, dan alam semesta telah bersama-sama mewujudkan itu.

Teman, Jalan hidup ini memang sangat menarik ya…

Aku mau berpesan untuk Skhole 2016, jangan terlalu cepat bosan, kalian harus bisa lebih merasakan kehangatan di sini. Kakak Skhole 2014, jangan terlalu cepat meninggalkan kami, karena kami sebenarnya masih butuh bimbingan kalian. Skhole 2015, terus semangat yaa untuk membawa Skhole sesuai dengan mimpi diktator kita, Fur fur hafirim.

dan terakhir untuk semuanya, aku hanya ingin kalian tahu…

Sebuah Pamitan Singkat

Cerita ini ditulis di tengah kesibukan dan ketakutan diriku untuk pergi ekspedisi ke Kalimantan pada 4 Agustus nanti. Aku tidak akan banyak melakukan pamitan formal kepada kalian. Aku harap tulisan ini bisa menjadi the untold story of mine yang bisa kalian ingat tentangku di Skhole. Karena memang aku sungguh-sungguh senang bisa belajar, bermain, berdiskusi, dan “berkembang” bersama kalian.

Terima kasih Faris, Dira, Thariq, ka Lulu, ka Imin, Skhole 2015, Skhole 2016, dan kakak-kakak lainnya.

 

Bandung, 2 Agustus 2017
pamit…

 

Fayed, pemimpi tapi tidur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *