Rekayasawan Laut

Telah sebulan lebih aku dan dua lima enam mahasiswa Institut Teknologi Bandung lainnya, yang dari berbagai jurusan, pergi ke Pulau Marabatuan. Malam ini aku ingin bercerita apa yang telah kulihat di sana karena berkaitan dengan jurusan yang ku ambil; Teknik Kelautan. Mungkin memori visual ini ada baiknya untuk diceritakan.

Pelabuhan Tj Perak

Siang yang terik menggiring kami untuk pergi ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Kami, aku dan tim ENJ ITB 2017, akan menaiki Kapal Perintis Sabuk Nusantara 57 yang seharusnya berangkat jam 3 sore. Sejam sebelumnya kami sudah tiba dan menganggap semuanya baik-baik saja hingga akhirnya kami dikejutkan dengan kabar bahwa kami telah kehabisan tiket kapal dan tidak bisa menaiki kapal. Ya memang kita tidak memesan tiket kapal sebelumnya. Tetapi seharusnya dengan Surat Penunjukan Tugas dari Kemenkoan Kemaritiman, kita memiliki stok tiket setidaknya untuk dua puluh enam orang. Usut-diusut, di balik semua ini, ada pemain tersembunyi. Untuk sekelas Pelabuhan Tanjung Perak, ternyata masih ada calo tiket. Mereka telah membeli semua tiket yang ada di loket asli termasuk yang seharusnya disisakan untuk kita. Walau sejujurnya aku tidak tahu pasti kondisi realnya, tetapi dua teman kami, Kevin dan Rian, butuh bersusah payah 55 menit untuk berjuang mendapatkan tiket ini.

Ya dengan syukur akhirnya kami segera menuju ke check-in gate pelabuhan yang tidak disangka-sangka ternyata bagus. Biasanya aku hanya melihat dari sebuah foto, tapi memang interior pelabuhan ini sangat nyaman untuk dipandang. Dermaga pelabuhan di sana tidak menjorok ke laut yang menandakan bahwa dasar laut pelabuhan ini sudah dikeruk agar kapal dapat berlabuh tanpa harus khawatir akan karam. Klakson kapal dibunyikan tiga kali yang menandakan kapal akan berangkat setelah 5 menit kami naik.

Tol Laut

Selama aku berhimpun di Keluarga Mahasiswa Teknik Kelautan ITB, kata “Tol Laut” selalu dicekoki kedalam pemikiran anggota himpunan baru. Tapi selama ini hanya teori yang dikasih tau, aku berpikir kenapa mereka tidak pernah memberi tahu bagaimana wujud tol laut itu sendiri. Walaupun sebenarnya tol laut adalah sistem. Tapi tol laut juga punya armada yang perlu diketahui orang-orang banyak.

Tol laut secara garis besar adalah sistem transportasi laut yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di berbagai daerah Indonesia dengan kapal logistik/penumpang dengan maksud untuk pemerataan harga logistik. Tol laut ini dibagi menjadi berbagai kategori berdasarkan besarnya komoditas daerah yang dihubungkan.

Kebetulan Kapal Perintis Sabuk Nusantara 57 yang mengantarkan kami ke Pulau Marabatuan, ternyata, adalah armada tol laut. Kapal ini akan terus menerus bolak-balik antar Surabaya, Jawa Timur ke Kotabaru, Kalimantan Selatan. Dengan rute Surabaya – Pulau Masalembo – Pulau Kramian – Pulau Maradapan – Pulau Matasiri – Pulau Marabatuan – Kotabaru.  Untuk sekelas program pemerintah yang biasanya serbang nanggung, KP Sanus 57 ini terbilang cukup baik. Fasilitas di sana benar-benar memadai, toilet bersih, tempat tidur nyaman, kafe, anjungan yang terawat, dll.

Bicara tentang kebermanfaatan, menurutku kapal ini sudah cukup sukses untuk menghubungkan pulau-pulaunya. Banyak barang yang dari kota diantarkan ke tiap-tiap pulau dan banyak pula juga barang dari pulau-pulau yang dikirim ke kota. Bayangkan, di saat sebelum adanya kapal ini, masyarakat pulau harus menggunakan kapal nelayannya untuk menjual barang ke kota. Udah lama, keburu busuk kalau kirim makanan, dan itupun juga bisa dikirim kalau kondisi laut sedang bersahabat

Tapi terlepas dari kebermanfaatan pengiriman barang pulau terpencil, sistem harga dari pengirimannya masih terbilang aneh. Berdasarkan penumpang yang suka mengirim barang, di KP Sanus 57 tidak ada daftar harga yang fix untuk tiap barang. Jika hari ini mengirim ikan dalam kotak 10kg misalkan Rp 20,000 , besok bisa saja jadi Rp 30.000. Hal ini karena memang harganya adalah hasil tembakan dari petugas kapal. Hal inilah yang sering dikeluhkan para pengguna KP Sanus; harga pengiriman tidak pasti.

Selain masalah harga barang pengiriman, juga ada masalah “jual kasur”. Beberapa pelabuhan atau dermaga pulau suka membuat sistem sendiri dalam penjualan tiket; tiket jual kasur. Kalau sistem kereta api di Jawa aja, tiap kursi punya harga yang berbeda-beda dan orang yang memiliki tiket dengan kursi nomor sekian harus duduk di kursi nomor sekian tersebut. Tapi sebenarnya KP Sanus 57 ini tidak memiliki sistem tersebut, seharusnya yang lebih cepat dia yang dapat, setidaknya itu kata awak buah kapal. Karena sistem penjualan tiket yang berbeda-beda di tiap pelabuhan maka akan selalu saja ada pertikaian di setiap kapal berlabuh. Pertikaian orang-orang yang kasurnya ditempati padahal merasa sudah membayar lebih untuk kasur tersebut. Tapi untungnya tidak ada penumpang yang membeli kasur peserta ENJ ITB haha.

Dermaga Pulau

Kapal Perintis Sabuk Nusantara 57 ini walaupun sudah bertahun-tahun berlayar ke tiap destinasi pulau-pulaunya, tetapi tidak berarti sudah pernah berlabuh di pelabuhan / dermaganya. Tiap pulau memiliki fasilitasnya yang berbeda-beda. Dari kelima pulau yang kukunjungi, hanya 1 pulau yang KP Sanus 57 ini benar-benar bersandar di dermaganya, yaitu Pulau Masalembo. Keempat sisanya, kapal hanya berhenti di tengah laut dan membiarkan kapal nelayan lokal untuk menjemput dan mengirim orang-orang. Hal ini terjadi dengan alasan yang jelas dan tiap pulau memiliki alasan-alasannya tersendiri.

Pertama, mari kita lihat Pulau Kramian. Dari kelima pulau, sebenarnya dermaga Kramian lah yang paling bagus dan modern. Berdasarkan petugas pelabuhan di sana, dermaga ini sudah rampung bertahun-tahun lalu dan sudah digunakan oleh banyak orang. Tetapi pihak kontraktor yang membangun dermaga ini menyatakan bahwa pembangunan belum selesai yang mana menyebabkan belum adanya peresmian dari pihak pemerintah. Karena belum diresmikan maka dermaga ini dianggap belum layak untuk menerima kapal untuk berlabuh. Kondisi yang sangat disayangkan, karena sering ada pertikaian antara masyarakat lokal Kramian yang mau turun dengan kapten kapal. Kapten kapal sendiri mengatakan ia mau-mau saja bersandar, tetapi tidak pernah dapat izin dari pusat Pelni nya. Jika perintah dari pusat dilanggar, jabatan kaptennya perlu dipertaruhkan.

Kedua, kita tengok Pulau Matasiri dan Maradapan. Dua pulau ini masih memiliki dermaga kayu dan aku yakin dibangun tanpa banyak hitung-hitungan. Bagaimana tidak, dermaga ini hanya bisa digunakan beberapa jam dalam sehari. Perlu menunggu tinggi permukaan air laut pas baru bisa digunakan. Misalkan sedang waktu surut, kapal akan terlalu rendah sehingga menyebabkan susahnya mobilisasi dari kapal ke dermaga atau sebaliknya. Sedangkan saat pasang, airnya akan membanjiri dermaganya. Permasalahan kedalaman laut juga menjadi alasan utama kenapa KP Sanus 57 terpaksa harus menjangkarkan diri di tengah laut.

Terakhir kita beralih ke Pulau Marabatuan. Yang kutahu, Pulau Marabatuan memiliki dua dermaga kayu dan satu dermaga besar. Dermaga tempat naik turun kami adalah salah satu dermaga kayunya. Walaupun kondisinya masih cukup kokoh dan menjorok jauh ke laut, tetap saja pelabuhan ini tidak dapat menerima kapal sebesar KP Sanus 57 dan sama seperti sebelumnya, saat surut, dermaga ini tidak dapat digunakan secara efektif.

Sebenarnya di sebelah timur pulau ini alias di desa Tanjung Nyior, ada proyek dermaga besar yang mangkrak. Ukurannya paling besar dibandingkan dengan Pulau Masalembo dan Pulau Kramian. Dermaga ini memiliki daerah reklamasi sendiri, trestle panjang ke tengah laut, dan dermaga panjang untuk kapal berlabuh. Ya aku bisa berkata seperti itu walaupun sebenarnya dermaga tersebut belum berwujud jelas. Berdasarkan warga lokal di sana, pembangunan terhenti di saat beberapa pihak mengkorup dana pembangunan sehingga harus menunggu waktu yang cukup lama untuk mengusut dan melanjutkan pembangunannya. Pembangunannya juga menimbulkan sebuah masalah lain, yaitu tentang hilangnya pantai di pulau tersebut.

Pantai yang Hilang

Terlepas dari kontur pulau berbatu, sebenarnya dulu Pulau Marabatuan memiliki pantai yang cukup indah, namanya Pantai Pasir Biru. Pantai ini bukan hilang secara alami dan misterius tetapi dengan sejelas-jelasnya hingga semua warga tau. Aku mendengar ceritanya dari Pak Hamdi, bapak tempat aku tinggal, dan orang-orang yang ku sempat tanya. Mereka mengatakan bahwa Pantai Pasir Biru hilang karena pasirnya dieksploitasi saat pembangunan pelabuhan oleh beberapa orang lokal. Orang-orang tidak bertanggung jawab ini megeruk seluruh pasir pantai dan menjualnya ke pemerintah untuk proses pembangunan dermaganya. Aku juga sempat mengunjungi tempat yang dimaksud tersebut dan melihat secara langsung bagaimana kondisi pantainya sekarang dan yang paling mengejutkan adalah ada bukti bahwa pasir pantainya dieksploitasi. Di sepanjang hutan yang aku telusuri untuk menuju pulau tersebut banyak tambak-tambak pasir terbengkalai dengan pasir masih di dalamnya. Berhentinya proyek dermaga itulah yang membuat pasir ini tidak laku dijual. Tapi sayang sekali, belum ada inisiatif masyarakat lokal untuk mengembalikan pasirnya padahal jumlahnya terhitung cukup banyak.

Hilangnya pasir di pantai tersebut akan merubah pola sedimentasi pesisir yang dapat mengakibatkan semakin terkikisnya suatu daerah dan semakin tebalnya sebuah daerah. Untungnya sekitar sana tidak ada pemukiman sehingga masih dianggap aman.

~~

Aku menceritakan ini dengan harapan agar orang-orang lebih peka dengan aspek kelautan negeri ini. jika Indonesia terus menerus dibangun dengan sistem yang serba “yang penting ada”, mana mungkin kita bisa menjadi poros maritim dunia. Menjadi poros maritim di negeri sendiri saja masih belum bisa. Sayangnya lagi, semua yang dapat diuangkan akan selalu diuangkan. Padahal menurutku hal seperti itu perlu ditahan demi kebaikan bersama.

Aku  yakin banyak ketidakakuratan cerita yang aku terima, tapi setidaknya beberapa hal aku lihat secara langsung dan membuatku yakin akan permasalahan yang terjadi.

 

Salam, Pemimpi Tapi Tidur

 

20 September 2017

1

Leave a Reply