Pengajar Nusantara

Seorang pahlawan bukanlah orang yang memiliki kekuatan super, turun dari langit, menyelesaikan segala masalah lalu kembali lagi ke langit. Melainkan pahlawan adalah orang yang berani bermimpi, berjuang, berani jatuh, dan berani bangun lagi untuk apa yang diperjuangkannya.

Kalimat, yang selalu diucapkan akhir-akhir ini oleh sahabatku Faris, selalu membuat otak dan hati ini yakin akan arah dan tujuan. Seorang Fayed dulu yang terlahir di lingkungan tanpa rencana terjun ke bidang pendidikan sama sekali, kini telah berubah. Perubahan itu juga semakin menjadi-jadi saat dirinya harus pergi ke pulau terpencil bulan lalu. Bersama dua puluh lima teman ekspedisi nusantara jaya lainnya dia pergi untuk belajar dan mengajar.

Berhari-hari kami akan menetap, berhari-hari pula akan menghabiskan waktu sosial kami bersama orang asing di Pulau Marabatuan. Tidak ada cara terbaik untuk memulai sebuah pendekatan kecuali dengan menumbuhkan rasa hormat saling satu sama lain, yaitu Mengajar. Walaupun Pulau Marabatuan merupakan pulau terpencil, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa profesi mengajar adalah profesi yang sangat mulia di sana. Para tetua, pemerintah, dan masyarakat lokal sana sangat menyambut baik kami sebagai pengajar dari pulau Jawa.

Jumlah sekolah di Pulau Marabatuan cukup memadai. Dengan 3 SD, 1 SMP, dan 1 SMA, pulau Marabatuan dapat menampung anak-anak seluruh penghuni pulau dan sekitarnya untuk bersekolah.

Kebetulan di hari yang mana kami akan mulai disebar ke sekolah-sekolah, Aku ditunjuk untuk menjadi pengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau Sekolah Dasar Islam bersama dua temanku; Isma dan Antal. Madrasah Al-Hidayah namanya, madrasah ini terletak di ujung desa Tanjung Nyiur. Butuh waktu sekitar 40 menit untuk berjalan kaki dari tempat tinggalku.

Pagi pukul 07.30 WITA, aku sampai di sekolahnya lebih dulu daripada Isma dan Antal. Aku menunggu di jalanan gerbang masuk sekolah sambil merapihkan barang-barang yang kubawa. Tiba-tiba rombongan anak kecil lari turun menghampiriku dengan seragam olahraganya dan melihati barang-barang yang kubawa dengan rasa penasaran. Aku gugup, karena ini pertama kalinya aku akan mengajar di non-kota. Mereka terus menatapku dengan mata yang penuh pertanyaan. Untungnya Isma dan Antal segera tiba maka kami pun mulai bergerak ke bangunan sekolah yang berada di atas bukit. Nasib, sekolahnya baru saja tertimpa musibah angin kencang yang menyebabkan hilangnya kantor guru dan di sini tidak ada yang namanya bangunan untuk toilet. Tapi untung ruangan kelas mengajar masih memadai.

Sebelumnya kami sudah berbicara dan sepakat untuk meminjam waktu mengajar guru asli sana dan menggantikannya dengan kami. Kami dipersilahkan untuk memegang kelas 5 dan 6. Dengan bermodalkan peta, alat peraga, buku catatan, papan tulis dan persiapan seadanya kami pun memperkanalkan diri kami ke adik-adik yang sekiranya berjumlah empat puluhan orang. Aku memperkenalkan diri sebagai “kak Fayed”dan mereka menjawab balik dengan gembira “hai kak Fayed”. Bibir ini tertekuk senyum sendiri. Rasa malu-malu di sekujur tubuhku secara serentak runtuh dan badan ini sudah tidak tahan untuk bergerak aktif demi adik-adik.

Aku ingin membuat suasana kelas terasa nyaman bagi adik-adik, akhirnya kami dan adik-adik membuat kapal lipat dengan kertas dan menjadikan kapal itu sebagai kendaraan pembelajaran kita, karena kita akan belajar tentang Nusantara.

“Mari kita berlayaaar!” teriak Isma. Aku membawa mereka berlayar dari pulau Jawa ke pulau Kalimantan, “Ada gelombaaang tinggiiii….” kataku sambil mengayunkan kapal di tanganku, mereka sangat semangat sekali untuk mengikuti. Sebelum pelayaran kami sampai di Kalimantan, kita singgah di sebuah pulau kecil. Pulau di bawah Kalimantan, ya Pulau Marabatuan. Ya siapa sangka, kalau adik-adik tidak tahu letak pulaunya sendiri di mana. Mereka tampak kaget dan gembira saat akhirnya menemukan tulisan kecil Pulau Marabatuan di peta yang kami bawa. Sambil berlayar ke seluruh Nusantara sambil pula kami mengajarkan keunikan dan keberagaman negeri ini di tiap pulaunya.

Pelayaran nusantara ditutup dan dilanjutkan dengan eksperimen-eksperimen kecil. Aku layaknya pemain sulap di depan panggung, bermain dengan bahan kimia, telur dan balon dan adik-adik sebagai penontonnya. Melayang telor itu, tertiup sendiri balon itu.. pokoknya kita semua bahagia.

Aku berjalan mengelilingi ruangan kelas usai itu, dan bertatap muka secara dekat dengan adik-adik. Tampan dan cantik-cantik sekali orang sini, Bugis punya, kupikir. Secara bersamaan Isma dan Antal melanjutkan ke sesi terpenting yaitu pembicaraan mimpi. Kami membuat bagaimana caranya mereka dapat mengutarakan mimpi mereka di depan kelas tanpa harus malu-malu. Cukup sukses ternyata, kita semua kembali dapat tersenyum bersama. Menaiki kapal besar yang dinahkodai oleh calon kapten Fajar, dididik oleh calon guru-guru, diobati oleh calon perawat, hingga disuruh hormat oleh calon polisi wanita.

Mimpi adik-adik di sini masih sempit, mereka hanya tau profesi yang memang ada di pulaunya. Tapi ini tidak membuat semangat adik untuk terus belajar turun. Mereka sudah sadar betapa pentingnya menjadi sebuah “orang” terutama di pulaunya sendiri dan banyak jalan untuk menggapai hal itu.

Suasana seru kelas akhirnya ditutup foto bersama dengan seluruh pengajar di MI tersebut, sambil menyerahkan beberapa barang yang sekiranya dapat menunjang kegiatan belajar mengajar selanjutnya.

~~

Rasanya terharu dan senang sekali bisa merasakan mengajar di tempat yang jauh dari rumah. Di daerah yang mana laut menjadi jalanan untuk menuju ke daerah lain. Serta menjadi pahlawan kecil yang sebenarnya belum tentu dianggap pahlawan bagi sebagian orang. Adik-adik Marabatuan akan selalu menjadi saksi akan kehidupanku yang penuh dengan skenario tak terduga ini.

Aku harap suatu hari nanti aku akan bangun, bangun dari tidur pulas, untuk mengingat sesuatu yang kumimpikan, dan membuat hal itu nyata, lagi.

 

Bandung, 24 September 2017

 

Fayed, Pemimpi Tapi Tidur

Leave a Reply