Mentari Nias 4 : Pencerahan Diri di Pangalengan

Benderang sendiri, lampu yang digantung seadanya di pinggir jalan. Lapang masuk kecil tampak di sampingnya. Pelan-pelan, kami memakirkan motor di sana. Semua tampak nyengir kedinginan, setelah tahu di dalam sana adalah tempat kami live-in. Di rumah pak Iman di desa Pangalengan, atau tepatnya di gubuk bertingkat sederhana di samping kandang sapi, tempat kami para lelaki akan menginap. Sedangkan para perempuan tinggal di rumah ibu RW sembari membantu menyiapkan konsumsi.

Di saat Kertasari mencerahkan sebuah pemikiran baru tentang pendidikan, desa di Pangalengan telah mencerahkan sebuah hikmah tentang kehidupan kota dan desa. Cerita yang ini pun juga tidak ada hubungannya dengan DK AMI sama sekali, tapi mungkin jika kita cocologi pasti akan ada.

~~

Masih di tanggal 20 Desember, kami tiba di Pangalengan. Matahari akhirnya muncul juga beberapa saat sebelum terbenam di bukit sana. Berhubung sejak awal, jadwal keberangkatan tergeser, ketibaan kami di Pangalengan pun ikut tergeser,  yang mana membuat kami tidak bisa bertemu dengan warga desa. Karena nyatanya di desa ini, setelah magrib akan sepi sekali. Bapak-bapak lebih suka menghabiskan waktu di masjid dan ibu-ibu di dalam rumah.

Perjalanan ini memang singkat, hanya 2 hari 1 malam. Tapi setengah keberjalanan saja, aku sudah merasakan banyak perasaan. Tempat bermalam kami memang seadanya, tapi kebersamaan di sebuah kesedarhanaan adalah yang tak biasanya. Dengan sesimpel membicarakan sebuah mimpi, cinta,  dan men’s things sembari meminum secangkir kopi, sudah banyak senyum yang muncul tak sengaja. Ditambah di saat ada tiga bocah keponakan pak Iman, melihat wajah polos mereka saat kami membicarakan hal dewasa benar-benar menggemaskan.

Lalu ada satu pelajaran terakhir untuk menutup malam itu. Sebuah pelajaran yang membuktikan bahwa keras kepala itu tidak baik. Di saat semua orang taat disuruh membawa sleeping bag untuk tidur, aku yang keras kepala hanya mengandalkan jaket tebal. Apesnya, tadi sore jaketku benar-benar basah kuyup kehujanan dan tidak kering sampai malam itu. Alhasil aku harus tidur dengan tiga lapis baju yang sebenarnya sia-sia, karena malam itu luar biasa dinginnya. Hanya perasaan iri melihat orang lain tidur nyaman yang ada saat malam itu. Baik, spek itu benar alasannya, lain kali harus taat dan serius dikit, ingatku.

~~

Kehidupan seorang peternak itu sangat terikat dengan jadwal. Terbukti dengan Pak Iman yang sudah bangun jam 4 subuh untuk beribadah, lanjut jam 5 untuk membersihkan kandang dan menyikat sapi, jam 6 untuk memeras susu, jam 7 untuk mencari rumput di kebun atau bahkan membantu membuat pasak kayu untuk perkebunan, lalu kembali saat siang untuk membawa pulang apa yang telah didapat.

Ya kami, sebagai mahasiswa yang ingin merasakan kehidupan di sebuah kampung, secara tidak langsung harus membuntuti pak Iman. Meniru segalapun yang ia lakukan, dan mengikuti kemanapun ia pergi termasuk saat ke kebun. Namun, saat sudah di kebun, kami malah disuruh untuk pergi melihat-lihat sekitar saja. Padahal rencana awalnya kami akan membantu menanam dan mencabut wortel. Oh ternyata, ada sesuatu yang membuat hal itu tidak mungkin dilakukan; kebun itu milik orang lain. Pak Iman takut nanti kebun tehnya malah merugi.

Jikalau dipikir, terkadang memang di saat kita berniat membantu masyarakat, sebenarnya kita suka malah merepotkan dan menghambat pekerjaan mereka. Inipun terjadi pas kami mampir ke kumpulan orang tua yang sedang menggarap ladang. Mereka sangat ramah, menerima kami dengan senyuman lebar. Rasa kasihan karena mereka sudah tua memaksa kami untuk menawarkan bantuan menyangkul. Mereka mengiyakan dan memberikan cangkulnya. Aku yang kebetulan memegang kamera, harus selalu sedia di posisi bagus dan fokus kepada objek menarik. Salah satunya adalah ekspresi wajah mereka. Membantu menyangkul ladangnya ternyata hanya membuat raut wajah mereka canggung; seperti ingin mengatakan bahwa kami salah dan lambat tapi karena tidak enak akhirnya malah senyum-senyum. Setelah kami selesai, merekapun lanjut menyangkul, dan menyelesaikan selama 1 menit apa yang kami kerjakan selama 10 menit. Tapi sebenarnya mereka ada senangnya juga kok jikalau ada orang kota yang datang kesana untuk sekedar bermain dan menyapa.

Kebun Pangalengan Lihat rumah di sana
Hanya anjing-anjing di kebun

Truk Gas Alam Pangalengan

Bersendal ria

Foto dulu dek

~~

Lanjut ke hari yang semakin siang, kami semua berkunjung ke rumah ibu RW sebelum berniat ingin pulang ke Bandung setelahnya. Rumah yang memiliki balkon tanpa pembatas ini diisi oleh keluarga yang banyak anak kecilnya. Minimalis, tapi dapat menghangatkan yang ada di dalamnya. Memasak bersama, memakan bersama, dan ketiduran karena kenyang bersama. Walaupun di sana banyak anak kecil, tidak berarti kondisi jadi berantakan. Mereka dengan bisanya menghormati tamu yang ada, memaksa kami tidur di kasurnya, tidak berisik saat kami tidur, bahkan mendahulukan segalanya termasuk makanan untuk kami. Merekapun duduk sangat santun saat di jamuan, minim berbicara saat orang tua sedang berbicara, pergi di saat kami sedang membicarakan hal yang serius dengan orang tuanya, dan menjaga saudara satu sama lain. Ibu RW benar-benar berhasil menurunkan sebuah nilai etika. Etika yang sudah lama menjadi ciri khas orang Sunda.

~~

Kepulangan kini menjadi berat, tidak ada rasa keinginan pulang cepat. Tapi teklap tetaplah teklap. Masih ada banyak kegiatan selanjutnya yang harus dilakukan. Turun dari gunung ke lembah, dari Pangalengan ke Kota Bandung. Kembali berinteraksi dengan orang kota.

Aku rindu, orang-orang Indonesia yang beretika di kota. Menghargai yang hidup saja susah, apalagi yang mati. Acuh, cuek, dan egois, bosan aku ketemu orang-orang seperti itu. Sabar di lampu merah pun tak bisa. Bawaannya runyeng dan ruwet terus. Walaupun sepenuhnya aku juga bukan orang yang sudah beretika, tapi perlahan akibat pengalaman, aku jadi sangat ingin sekali menjadi orang yang berbudi. Murah senyum, santun kepada semua orang, menyapa saudara adalah hal yang seharusnya aku lakukan. Menghargai pejalan kaki dan menghargai yang menggunakan kendaraan juga menjadi sebuah kewajiban beretika di kota ini.

Terakhir yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengabaikan kebaikan sendiri; berbuat baik, berbudi, beretika tanpa alasan. Menghilangkan perasaan riya, tidak munafik, ikhlas dan berniat tulus semata-semata karena kebaikan dunia dan akhirat.

Doakan saja perjalanan ke Nias juga bisa memberikan pelajaran lainnya.

Bandung, 1 Januari 2018

Fayed, Pemimpi Tapi Tidur

Leave a Reply