Kampung Maroon Braga

Story, ,

Kita siap berangkat malam itu. Tampak bingung semuanya, melihat garis merah menutupi jalanan Bandung di peta seluler. Rencana main ini adalah untuk menyenangkan kaum jaket maroon. Juga ada rasa keinginan pergi bersama teman-teman baru. Ya sebut saja teman diklat DK AMI 2018 ; Rais, kZacky, Sidik, kArief, Aul, Uus, Gege.

Caca, salah seorang kaum jaket maroon yang juga teman diklat, terus mengajak kami semua untuk datang ke Braga. Tampak bingung lagi semuanya, kita berdelapan, mau naik apa kesana. Hingga akhirnya tercetus ide untuk jalan. Ya jalan dari Masjid Salman ITB ke Braga. Persetan dengan cape, aku mau akrabkan diri, aku mau hilangkan penat ujian lusa nanti. Toh jalan kaki di Bandung malem-malem pasti asik, apalagi kalau bareng-bareng. Semua sepakat, kita berangkat.

~~

Satu jam berlalu. Rambut sudah basah karena rintik air dari langit yang terus turun sejak tadi siang. Kaki ini terus berjalan, dari lambat jadi makin cepat setelah kita tahu bahwa tinggal dua tikungan lagi untuk sampai ke lokasi. Tujuan akhir kami bukan cafe malam, bukan juga mall. Kita sebenarnya sedang mencari kampung di padatnya daerah Braga, sebutannya Kampung Maroon.

“RW 07” tertulis putih dengan latar hijau di portal masuk tikungan terakhir. Jalan kecil dengan kanan kiri rumah sederhana, tapi juga ada satu dua rumah minimalis mewah dan hotel melati.  Terus masuk semakin dalam, menuruni tangga yang diiringi pengecilan jalan. Suara anak kecil dan ibu-ibu pun mulai terdengar. Pantulan kelap kelip lampu juga tampak menghiasi sisi ujung jalan. Akhirnya terlihat juga panggung utama di tengah lapang kecil, Kita telah sampai di Kampung Maroon!

~~

“Waaaa!” ya teriakan keras menjadi sambutan pertama kami. Wajar sih, udah ditunggu lama tapi akhirnya kita datang juga. Kulihat sekitar untuk tau apa sih maksudnya Kampung Maroon. Oh ternyata, ini kampung binaan pengmasnya Himpunan Mahasiswa Planologi dan sekarang lagi ngadain festival gitu bareng masyarakat lokal. Pantes namanya kampung Maroon, karena jaket HMP itu warna maroon (#yudonse). Keren juga ya pengmasnya di tengah kota gini.

Anyway sempet Ada teteh lucu nyuguhin thai tea. “ya makasih mba”, tapi kok rasanya hambar, eh ternyata karena belum diaduk. ehe

Ainun udah duduk santai di depan panggung. ada Isma, mbakYul, Luthfi, Mei, Caca, kak Ala, dan Saghita juga. Wah mini reuni Skhole dan ENJ nih. Di tembok samping sana ada spot foto, tanpa basa basi, langsung kita foto-foto yang banyak.

Awalnya pasca foto-foto aku hanya bisa berdiri kaku di pinggiran, melihat ibu-ibu lokal featuring bocah-bocahnya joget. Lagu dangdut emang sangat mantap ya kalau disetel di tengah kampung gini. Lanjut, MC mengumumkan kalau acara Festival Kampung Maroon segera selesai, tapi sebelumnya akan ada penampilan terakhir dari Koes Plus KW. Eh Koes plus… udah lama gak denger lagunya, aku pikir. Melodinya pun dimainkan, tiba-tiba tubuh ini udah seperti kerasukan jin. Gak bisa berhenti joget! Tubuhku gak bisa diem sambil asik melihat orang-orang di sini antusias menonton penampilan orang-orang tua di atas panggung itu. Bodo amat, aku ikut masuk aja ke keramaian di depan panggung, joget sepuasnya. Lupakan sebentar hal-hal kampus yang memberatkan dan kadang berdoa semoga jogetku gak keliatan aneh-aneh banget.

Di sini aku bahagia, bukan karena melakukan yang aku suka. Aku bahagia karena bisa melihat dan merasakan hal yang jarang terlihat dan terasa dalam hidupku. Kebahagiaan orang-orang kampung asli sana benar-benar tak tergambarkan. Mereka bisa bahagia karena dan bersama mahasiswa! Kompak sekali cewe maroon yang cantik-cantik membaur dengan ibu-ibu sekitar. Asik sekali cowo-cowo maroon membaur dengan pemuda dan bapak-bapak sana.

Sayang sekali, waktu terus berdetik saat itu. Teman diklat yang lain sudah pada letih, bahkan pada memohon aku berhenti joget dan minta segera pulang. Berhentinya tubuh ini langsung mengingatkanku besok pagi ada latfis diklat, lusa pagi ada ujian struktur. Siaaal! Akhirnya kita pamit, pesan taxi, lalu pulang.

~~

Sampai malam ini, aku masih sangat bersyukur bisa berkunjung ke Kampung Maroon. Ternyata seperti itu loh sosok manusia yang tinggal di kampung di tengah kota. Mereka layaknya kita, mereka punya rumah permanen. Mereka punya keluarga, mereka bersekolah, mereka punya pekerjaan. Mereka juga ingin tersenyum.

Bodohnya aku yang dari dulu punya pikiran bahwa mereka seharusnya segera pindah karena merusak pemandangan kota dan gusur saja kalau tidak mau.

Penataan kota memang penting. Semuanya juga ingin kotanya terlihat tertata dan indah. Tapi terkadang kita lupa, cara yang kita lakukan itu bisa membuat hancur kehidupan mereka. Memindahkan anak sekolah itu tidak mudah, mencari tempat tinggal baru apalagi. Relokasi butuh pendekatan. Pendekatan yang bisa mengambil hati warga, dan yang bisa tetap memanusiakan mereka.

Jadi inget kata bu Risma, Walkot Surabaya
“Mengurus kota itu gak segampang main simcity, yang bisa asal gusur ini dan bangun itu”.

Ya syukurlah diingatkan, semoga semakin banyak yang sadar akan hal ini. Semoga makin sukses juga mimpi kaum jaket Maroon! Kuucapkan terima kasih sekali lagi karena telah membuat festival yang sekeren itu.

 

Bandung, 12 November 2017

 

Fayed, Pemimpi Tapi Tidur

Leave a Reply